Teori Belajar

  1.   Kajian Teoritis

Sebelum seorang guru melakukan pembelajaran, seorang guru harus menguasai teori-teori pembelajaran yang akan dipakai dalam pembelajaran tersebut. Penguasaan teori belajar dimaksudkan agar guru tersebut mampu mempertanggungjawabkan apa yang akan dilakukan dalam pembelajaran.

a)      Teori Belajar Behaviorisme

Menurut teori ini manusia sangat dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di dalam lingkungannya, yang akan memberikan pengalaman-pengalaman tertentu kepadanya. Belajar di sini merupakan perubahan tingkah laku yang terjadi berdasarkan paradigm S-R (Stimulus-Respons), yaitu suatu proses yang memberikan respons tertentu terhadap yang datang dari luar.

Proses S-R ini terdiri dari beberapa unsur, yaitu :

  1. Unsur Dorongan (Drive) : karena adanya kebutuhan akan sesuatu maka ada dorongan untuk memenuhi  kebutuhan tersebut.
  2. Unsur Rangsangan (stimulus): diberikannya stimulus / rangsangan                               yang kemudian menghasilkan  respons.
  3. Unsur Respons   : reaksi yang timbul terhadap stimulus yang diterimanya, dengan bentuk  tindakan yang terlihat.
  4. Unsur Penguatan (reinforcement)  : penguatan yang diberikan agar timbul rasa membutuhkan yang selanjutnya akanmemberikan respons lagi.

Behaviorisme menekankan pada apa yang dapat dilihat yaitu tingkah laku, serta tidak memperhatikan apa yang terjadi di dalam pikiran karena tidak dapat terlihat, oleh karena itu tidak dianggap ilmiah (Leahey & Harris, 1985). Dengan demikian proses belajar menurut behaviorisme lebih dianggap sebagai suatu proses yang bersifat mekanistik dan otomatik tanpa membicarakan apa yang terjadi selama itu di dalam diri mahasiswa yang belajar (Galloway, 1976).

Beberapa macam teori behaviorisme yang terkenal adalah :

1)      Classical conditioning (Pavlov)

Teori ini didasarkan atas reaksi system tidak terkontrol di dalam diri seorang dan reaksi emosional yang dikontrol oleh system urat syaraf otonom serta gerak reflex setelah menerima stimulus dari luar.

Dapat digambarkan sebagai berikut :

Stimulus tidak terkontrol

(US)

Respons tidak terkontrol

(UR)

 

Stimulus tidak terkondisi (US) merupakan stimulus yang secara biologis dapat menyebabkan adanya respons dalam bentuk reflex (UR). Di sisni respons dapat terbentuk tanpa adanya proses belajar.

Kalau bersama-sama (biasanya beberapa detik sebelumnya) dengan stimulus tanpa kondisi (US) diberikan suatu stimulus lain yang netral maka secara bersama kedua stimulus tersebut akan menghilangkan respons yang merupakan reflex (UR) itu tadi, dan akan timbul respons baru yang diharapkan (CR). Stimulus netral yang diberikan bersama stimulus pertama ini disebut stimulus terkondisi (CS).Dengan terbentukny respons terkondisi (CR) yang memang diharapkan, maka dapat dikatakan bahwa akhirnya seseorang telah belajar(Toeti & Udin, 1997).

Pavlov mengadakan suatu eksperimen dengan menggunakan seekor anjing. Anjing yang dikurung dan setiap saat tertentu diperdengarkan bunyi bel yang disertai penaburan bubuk daging ke dalam mulutnya. Respons anjing adalah berupa keluarnya air liur dari mulutnya. Perlakuan ini diulangi berkali-kali dan lama-kelamaan penaburan bubuk daging dihilangkan, tetapi bunyi bel tetap diperdengarkan. Meskipun bubuk daging tidak lagi ditaburkan ternyata setiap mendengar bunyi bel, anjing tersebut akan mengeluarkan air liur dari mulutnya. Dengan demikian Pavlov menyimpulkan bahwa anjing bisa belajar dari kebiasaan, bunyi bel merupakan stimulus yang akhirnya menghasilkan respons terkondisi dan bunyi bel yang semula netral tetapi setelah disertai mediasi berupa bubuk daging lama-kelamaan berubah menjadi daya yang mampu membangkitkan respons.Selain itu Pavlov juga menyimpulkan bahwa hasil eksperimennya dapat diterapkan pula kepada manusia untuk belajar. Implikasi hasil eksperimen tersebut pada belajar manusia yaitu belajar adalah membentuk asosiasi antara stimulus respons secara reflektif, proses belajar akan berlangsung apabila diberi stimulus bersyarat, prinsip belajar pada dasarnya merupakan untaian stimulus respon, menyangkan adanya kemampuan belajar dan adanya classical conditioning (Pranowo, 1996).

2)      Operant Conditioning (skinner)

Teori Skinner ini menyatakan bahwa setiap kali memperoleh stimulus maka seseorang akan memberikan respons berdasarkan hubungan stimulus respons (S-R). respons yang diberikan ini dapat sesuai (benar) atau tidak sesuai (salah) dengan apa yang diharapkan. Respons yang benar perlu diberi penguatan (reinforcement) agar orang ingin melakukannya kembali (Toeti & Udin, 1997).

Menurut Hill (1980) pemberian penguatan terhadap respons dapat diberikan secara kontinum (continuous reinforcement) dan selang-seling (intermittent reinforcement). Pemberian penguatan secara kontinum biasanya diberikan pada permulaan proses belajar yaitu setiap kali orang memberikan respons yang benar atau yang diharapkan. Setelah selang beberapa waktu maka frekuensi pemberian penguatan perlu dikurangi dengan maksud agar setiap orang tetap tekun belajar.Cara yang dipakai di dalam intermittent reinforcement ini dapat bermacam-macam dan dikelompokkan menjadi ratio apabila pemberian penguatan tergantung pada jumlah respons yang diberikan dan interval apabila pemberian penguatan tergantung pada waktu.

Eksperimen Pavlov dikembangkan oleh pengikutnya yaitu B.F. Skinner (1993) dan hasilnya dipublikasikan dengan judul “Behavior of Organism”. Eksperimen Skinner tidak lagi menggunakan anjing tetapi menggunakan seekor tikus yang dimasukkan ke dalam kandang dan di dalamnya diletakkan dua tongkat pengungkit yang dihubungkan dengan makanan dan bedak gatal. Gerakan-gerakan tidak sengaja yang dilakukan oleh tikus dengan menginjak pengungkit lain yang ternyata menjatuhkan bedak gatal, si tikus ternyata mampu “belajar”. Tikus lama-kelamaan tidak mau lagi meninjak tongkat pengunglit yang biasa menjatuhkan bedak gatal, tetapi sebaliknya si tikus berkali-kali menginjakkan kakinya pada tongkat pengungkit yang biasa menjatuhkan makanan.

Hasil eksperimen B.F. Skinner kemudian disimpulkan bahwa :

  1. Pengertian belajar merupakan pembentukkan asosiasi antara stimulus dengan respons reflektif. (sama dengan Pavlov)
  2. Menyangkal adanya kemampuan bawaan
  3. Belajar perlu classical conditioning dan operan conditioning
  4. Diterapkannya pengajaran terprogram secara bertahap
  5. Ada hukuman atau ganjaran sebagai bentuk reinforcement (penguatan) baik secara positif maupun negatif.

Prinsip-prinsip teori behaviorisme yang banyak dipakai di dunia pendidikan ialah (Hartley & Davies, 1978):

a)      Proses belajar dapat terjadi dengan baik apabila siswa ikut berpartisipasi secara aktif di dalamnya.

b)      Materi pelajaran disusun dalam bentuk unit-unit kecil dan diatur berdasarkan urutan yang logis sehingga siswa mdah mempelajarinya, antara lain juga karena di sini mereka hanya perlu memberikan suatu respons tertentu saja.

c)      Tiap-tiap respons perlu diberi umpan balik secara langsung, sehingga siswa dapat segera mengetahui apakah respons yang diberikan telah benar atau belum.

d)     Setiap kali siswa memberikan respons yang benar maka ia perlu diberi penguatan. Penguatan positif ternyata memberikan pengaruh yang lebih baik dari pada penguatan negatif.

b)     Penerapan teori Belajar Behaviorisme  (Toeti & Udin, 1997) :

  1. Pengajaran Terprogram (Programmed Learning), di mana materi disajikan dalam unit-unit kecil yang mudah dipelajari oleh siswa. Setiap kali unit tersebut selesai dipelajari siswa segera memperoleh umpan balik. Respons yang benar diberi penguatan, yang biasanya berupa penguatan positif.
  2. Pengajaran Tuntas (Mastery Learning), yang menyatakan bahwa semua orang dapat belajar dengan baik apabila diberi waktu cukup dan pengajaran dirancang dengan baik pula. Waktu yang diperlukan untuk belajar disini tergantung pada kemampuan individual masing-masing orang. Materi pengajaran di dalam belajar tuntas dipecah-pecah menjadi unit-unit yang harus dikuasai terlebih dahulu oleh mereka yang belajar, sebelum melanjutkan materi berikutnya. Di akhir setiap unit diberikan umpan balik mengenai keberhasilan belajar yang telah dicapai, yang juga berfungsi sebagai penguat. Sebagai contoh diadakannya ulangan atau ujian yang kemudian guru member nilai.

c)      Teori Belajar Kognitivisme

  1. John pigaet

Sebuah pembelajaran akan berhasil apabila sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi Kebebasan untuk melakukan sesuatu yang mereka inginkan.Dan guru memberikan rangsangan supaya peserta didik melakukan sesuatu tanpa adanya paksaan teteapi karena kemauan sendiri. Karena dengan mereka melakukan pembelajaran secara langsung maka peserta didik akan lebih mengingatnya daripada mereka hanya mendengarkan gurunya menerangkan. Seorang peserta didik seharusnya melakukan sesuatu sesuai dengan usianya, tidak mengikuti apa yang dilakukan orang dewasa. Guru harusnya memberi penjelasan sesuai dengan kondisi lingkungan yang sebenarnya dan memberikan fakta atau bukti yang nyata yang ada dilingkungan sekitar, supaya peserta didik mudah dalam memahaminya.

Didalam kelas hendaknya juga peserta didik diberi kebebasan untuk berinteraksi dengan teman sebayanya dan berdiskusi dengan temannya. Kata Pigaet proses belajar terdiri dari tiga tahapan yaitu :

  1. Asimilasi

            Proses asimilasi adalah proses penyatuan informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada dalam pikiran peserta didik.

  1. Akomodasi

            Akomodasi adalah pnyesuaian struktur kognitif kedalam situasi yang baru.

  1. Equilibrasi (penyeimbangan)

            Penyesuaian yang berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.

Misalnya seorang peserta didik yang sudah menguasai materi penjumlahan. Jika gurunya mengenalkan materi tentang perkalian, maka proses penggabungan antara materi penjumlahan (yang sudah ada dalam pikiran siswa) dengan materi perkalian (sebagai informasi baru) inilah yang disebut dengan proses asimilasi. Jika peserta didik tersebut diberi soal perkalian maka situasi itu disebut proses akomodasi (dalam hal ini pemakaian materi perkalian tersebut dalam situasi yang baru dan spesifik). Agar peserta didik dapat terus berkembang dan menambah ilmunya maka peseta didik memerlukan proses penyeimbangan antara ‘dunia luar’ dan ‘dunia dalam’. Tanpa adanya proses ini maka peserta didik akan mengalami hambatan dan kehidupannya tidak berjalan dengan teratur.

Setiap peserta didik mempunyai jumlah informasi yang sama tetapi kemampuan menyeimbangkan informasi yang didapat tidak semuanya sama. Peserta didik yang mempunyai equilibrasi yang baik akan mampu “menata” berbagai informasi yang diperoleh dengan baik, jernih, dan logis. Sedangkan peserta didik yang tidak memiki kemampuan equilibrasi yang kurang baik maka peserta didik tersebut akan menyimpan informasi yang ada kurang teratur, sehingga alur berfikir peserta didik yang seperti itu akan berfikir ruwet, tidak logis, dan berbelit-belit.

Dalam proses perkembangan ini piaget membagi menjadi 4 tahap yaitu :

  1. Tahap sensiromotor (ketika anak berumur 1,5 sampai 2 tahun)
  2. Tahap praoperasional (2 smpai 8 tahun)
  3. Tahap operasional konkret (8 tahun sampai 14 tahun)
  4. Tahap operasional fomal (14 tahun atau lebih)

Jika seorang guru memberikan materi tanpa memperhatikan tahapan-tahapan tersebut maka akan menyulitkan siswanya dalam memperoleh materi. Contohnya saja jika guru tersebut memberikan materi kepada siswa kelas 1 tentang materi yang seharusnya diberikan kepada siswa kelas 4 maka siswa tidak memahaminya sehigga materi yang disampaikan akan percuma.

  1. Burner

Perkembangan seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang ada disekitarnya, karena lingkungan adalah tempat belajar yang paling dekat dengan peserta didik. Cara belajar yang terbaik menurut Bruner ini adalah dengan memahami konsep, arti dan hubungan melalui proses intuitif kemudian dapat dihasilkan suatu kesimpulan.

  1. Ausubel

Pembelajaran ini akan berjalan dengan lancar apabila isi pelajarannya dijelaskan kemudian dipresentasikan kepada peserta didik dengan baik, sehingga para peserta didik dapat memahaminya. Pengaturan kemajuan belajar adalah konsep atau informasi umum yang mencakup semua isi pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa. Advanced Organizer adalah konsep atau informasi umum yang memuat semua isi pelajaran yang akan dipelajari oleh siswa. Advanced Organizer memberikan tiga manfaat yaitu :

  1. Menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi yang akan dipelajari
  2. Berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara yang sedang dipelajari dan yang akan dipelajari
  3. Dapat membantu siswa untuk memahami bahan belajar secara lebih mudah

Prinsip-prinsip teori belajar kognitivisme yang banyak dipakai didunia pendidikan ialah (hardley & Davies, 1978) :

a)      Siswa akan lebih mampu mengingat dan memeahami sesuatu apabila pelajaran tersebut disusun berdasarkan pola dan logika tertentu.

b)      Penyususnan materi pelajaran harus dari sederhana ke kompleks

c)      Belajar dengan memahami lebih baik daripada dengan hanya menghafal

d)     Adanya perbedaan individual pada siswa perlu diperhatikan karena faktor ini sangat mempengaruhi proses belajar siswa.

Maka dari itu seorang guru harus benar-benar menguasai materi pelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik. Dan seorang guru harus mempunyai wawasan yang luas dan dapat berfikir sebaik mungkin. Karena tanpa memiliki logika berfikir yang baik, maka guru akan kesulitan dalam memilih materi pelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik, dan kesulitan mengurutkan materi demi materi kedalam struktur urutan yang logis dan mudah dipahami oleh peserta didik.

d)     Penerapan Teori Belajar Kognitivisme

  1. Pemberian motivasi pada peserta didik agar dapat memacu kemampuan dalam diri peserta didik.
  2. Pendidikan karakter untuk peserta didik agar peserta didik memiliki karakter yang baik.
  3. Pemberian training untuk peserta didik sesuai perkembangannya.

DAFTAR PUSTAKA

 Soekamto, Toeti dan Udin Saripudin W. 1997.TEORI BELAJAR DAN MODEL-  MODEL PEMBELAJARAN.

Pranowo. 1996. ANALISIS PENGAJARAN BAHASA. Yokyakarta: Gadjah Mada      University Press.

Prasetya I, dkk.1997.TEORI BELAJAR MOTIVASI & KETERAMPILAN MENGAJAR. Jakarta: PAU-PPAI.

http://zaifbio.wordpress.com/2010/04/29/teori-teori-belajar-behaviorisme-gestalt-kognitivisme-konstruktivisme-cbsa-keterampilan-proses-sosial-ctl-pendekatan-komunikatif-pendekatan-tematik-integratif/; diakses 16 Maret 2012; 20.24 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s