Hakikat dan Genre Sastra Anak

A.  Hakikat Sastra Anak

Sastra berbicara tentang kehidupan, tentang persoalan hidup manusia, tentang kehidupan di sekitar manusia, yang kesemuanya diungkapkan dengan cara dan bahasa yang khas. Sastra selalu menawarkan dua hal, yaitu kesenangan dan pemahaman. Kesenangan muncul karena sastra menampilkan cerita yang menarik, mengem­bangkan fantasi, dan menghibur pembaca. Pemahaman berkaitan dengan tampilan persoalan kehidupan dalam sastra. Eksplorasi kehidupan dalam  sastra akan menambah pemahaman pembaca pada kehidupan nyata. Sastra pada hakikatnya adalah citra atau gambaran kehidupan (image of life), yakni penggambaran secara konkret tentang model-model kehidupan manusia. Sastra adalah metafora kehidupan (methapor for living), yakni model-model kehidupan dalam sastra merupakan kiasan, simbolisasi, dan perbandingan dari kehidupan sesungguhnya. Pada dasarnya karakteristik sastra tersebut di atas berlaku untuk semua jenis sastra, termasuk sastra anak.

Sastra mengandung eksplorasi mengenai kebenaran kemanusiaan. Sastra juga menawarkan berbagai bentuk kisah yang merangsang pembaca untuk berbuat sesuatu. Apalagi pembacanya adalah anak-anak yang fantasinya baru berkembang dan menerima segala macam cerita terlepas dari cerita itu masuk akal atau tidak. Sebagai karya sastra tentulah berusaha menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan, mempertahankan, serta menyebarluaskannya termasuk kepada anak-anak.

Sesuai dengan sasaran pembacanya, sastra anak dituntut untuk dikemas dalam bentuk yang berbeda dari sastra orang dewasa hingga dapat diterima anak dan dipahami mereka dengan baik. Sastra anak merupakan pembayangan atau pelukisan kehidupan anak yang imajinatif ke dalam bentuk struktur bahasa anak. Sastra anak merupakan sastra yang ditujukan untuk anak, bukan sastra tentang anak. Sastra tentang anak bisa saja isinya tidak sesuai untuk anak-anak, tetapi sastra untuk anak sudah tentu sengaja dan disesuaikan untuk anak-anak selaku pembacanya. (Puryanto, 2008: 2).

Sastra anak adalah karya sastra yang secara khusus dapat dipahami oleh anak-anak dan berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak, yaitu anak yang berusia antara 6-13 tahun. Seperti pada jenis karya sastra umumnya, sastra anak juga berfungsi sebagai media pendidikan dan hiburan, membentuk kepribadian anak, serta menuntun kecerdasan emosi anak. Pendidikan dalam sastra anak memuat amanat tentang moral, pembentukan kepribadian anak, mengembangkan imajinasi dan kreativitas, serta memberi pengetahuan keterampilan praktis bagi anak. Fungsi hiburan dalam sastra anak dapat membuat anak merasa bahagia atau senang membaca, senang dan gembira mendengarkan cerita ketika dibacakan atau dideklamasikan, dan mendapatkan kenikmatan atau kepuasan batin sehingga menuntun kecerdasan emosinya. (Wahidin, 2009).

Menurut Hunt (dalam Witakania, 2008: 8) mendefinisikan sastra anak sebagai buku bacaan yang dibaca oleh, yang secara khusus cocok untuk, dan yang secara khusus pula memuaskan sekelompok anggota yang kini disebut anak. Jadi sastra anak adalah buku bacaan yang sengaja ditulis untuk dibaca anak-anak. Isi buku tersebut harus sesuai dengan minat dan dunia anak-anak, sesuai dengan tingkat perkembangan emosional dan intelektual anak, sehingga dapat memuaskan mereka.

Tarigan (1995: 5) mengakatakan bahwa buku anak-anak adalah buku yang menempatkan mata anak-anak sebagai pengamat utama, mata anak-anak sebagai fokusnya. Sastra anak adalah sastra yang mencerminkan perasaan dan pengalaman anak-anak masa kini, yang dapat dilihat dan dipahami melalui mata anak-anak.

Sifat sastra anak adalah imajinasi semata, bukan berdasarkan pada fakta. Unsur imajinasi ini sangat menonjol dalam sastra anak. Hakikat sastra anak harus sesuai dengan dunia dan alam kehidupan anak-anak yang khas milik mereka dan bukan milik orang dewasa. Sastra anak bertumpu dan bermula pada penyajian nilai dan imbauan tertentu yang dianggap sebagai pedoman tingkah laku dalam kehidupan. (Wahidin, 2009).

Perkembangan anak akan berjalan wajar dan sesuai dengan periodenya bila disugui bahan bacaan yang sesuai pula. Sastra yang akan dikonsumsikan bagi anak harus mengandung tema yang mendidik, alurnya lurus dan tidak berbelit-belit, menggunakan setting yang ada di sekitar mereka atau ada di dunia mereka, tokoh dan penokohan mengandung peneladanan yang baik, gaya bahasanya mudah dipahami tapi mampu mengembangkan bahasa anak, sudut pandang orang yang tepat, dan imajinasi masih dalam jangkauan anak. (Puryanto, 2008: 2).

Sarumpaet (dalam Puryanto, 2008: 3) mengatakan persoalan-persoalan yang menyangkut masalah seks, cinta yang erotis, kebencian, kekerasan dan prasangka, serta masalah hidup mati tidak didapati sebagai tema dalam bacaan anak. Begitu pula pembicaraan mengenai perceraian, penggunaan obat terlarang, ataupun perkosaan merupakan hal yang dihindari dalam bacaan anak. Artinya, tema-tema yang disebut tidaklah perlu dikonsumsi oleh anak. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, tema-tema bacaan anak pun berkembang dan semakin bervariasi. Jenis-jenis bacaan anak misalnya, pada sepuluh tahun yang lalu sangat sedikit atau bahkan tidak ada, sangat mungkin telah hadir sebagai bacaan yang populer tahun-tahun belakangan ini.

Jenis sastra anak meliputi prosa, puisi, dan drama. Jenis prosa dan puisi dalam sastra anak sangat menonjol. Berdasarkan kehadiran tokoh utamanya, sastra anak dapat dibedakan atas tiga hal, yaitu:

  1. sastra anak yang mengetengahkan tokoh utama benda mati,
  2. sastra anak yang mengetengahkan tokoh utamanya makhluk hidup selain manusia,
  3. sastra anak yang menghadirkan tokoh utama yang berasal dari manusia itu sendiri. (Wahidin, 2008)

Ditinjau dari sasaran pembacanya, sastra anak dapat dibedakan antara sastra anak untuk sasaran pembaca kelas awal, menengah, dan kelas akhir atau kelas tinggi. Sastra anak secara umum meliputi

  1. buku bergambar,
  2. cerita rakyat, baik berupa cerita binatang, dongeng, legenda, maupun mite,
  3. fiksi sejarah,
  4. fiksi realistik,
  5. fiksi ilmiah,
  6. cerita fantasi, dan
  7. biografi.

Selain berupa cerita, sastra anak juga berupa puisi yang lebih banyak menggambarkan keindahan paduan bunyi kebahasaan, pilihan kata dan ungkapan, sementara isinya berupa ungkapan perasaan, gagasan, penggambaran obyek ataupun peristiwa yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak. (Saryono dalam Puryanto, 2008: 3)

B.  Ciri Sastra Anak

Menurut Puryanto (2008: 7) secara garis besar, ciri dan syarat sastra anak adalah:

1. Cerita anak mengandung tema yang mendidik, alurnya lurus dan tidak berbelit-belit, menggunakan setting yang ada di sekitar atau ada di dunia anak, tokoh dan penokohan mengandung peneladanan yang baik, gaya bahasanya mudah dipahami tapi mampu mengembangkan bahasa anak, sudut pandang orang yang tepat, dan imajinasi masih dalam jangkauan anak.

2. Puisi anak mengandung tema yang menyentuh, ritme yang meriangkan anak, tidak terlalu panjang, ada rima dan bunyi yang serasi dan indah, serta isinya bisa menambah wawasan pikiran anak.

Buku anak-anak biasanya mencerminkan masalah-masalah masa kini. Hal-hal yang dibaca oleh anak-anak dalam koran, yang ditontonnya dilayar televisi dan di bioskop, cenderung pada masalah-masalah masa kini. Bahkan yang dialaminya di rumah pun adalah situasi masa kini. (Tarigan, 1995: 5)

C.  Genre Sastra Anak 

Menurut Rebecca Lukens membagi genre sastra menjadi jenis – jenis:

  1. Jenis Realisme
    1. Cerita realisme (realistic story) bercerita tentang masalah-masalah sosial de­ngan menampilkan tokoh utama protagonis sebagai pelaku cerita.
    2. Realisme binatang (animal realism) adalah cerita binatang yang bersifat nonfksi, berwujud deskripsi  binatang tanpa unsur personifikasi.
    3. Realisme historis (historical realism), mengisahkan peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Biasanya mengambil satu atau eberapa tokoh utama yang dipergunakan sebagai ucuan pengembangan alur.
    4. Realisme olahraga (sports stories), cerita tentang berbagai hal yang berkaitan dengan dunia olah raga

2. Jenis Fiksi Formula

  1. Cerita misteri dan detektif (mysteries and detective), biasanya bercerita tentang seseorang yang dianggap hero yang luar biasa dan mungkin berkarakter aneh (nyentrik).
  2. Cerita romantis (romantic stories) biasanya menampilkan kisah simplisitas dan sentimentalis hubungan laki-laki perempuan, seolah-olah tidak ada urusan lain kecuali urusam percintaan.
  3. Novel serial, novel yang diterbitkan secara terpisah namun merupakan satu kesatun unit. Contohnya : Wiro Sableng, Nogo Sosro Sabuk Inten, dan Api di Bukit Menoreh. Bisanya novel jenis ini memiliki satu tokoh utama dengan sedikit perubahan karakter.

3. Jenis Fantasi

  1. Cerita fantasi (fantastic stories) biasanya menampilkan tokoh dan alur yang hampir sepenuhnya fantastik, seperti manusia yang berkawan dengan makhluk halus seperti hantu,  jin, atau  tuyul.
  2. Cerita fantasi tinggi (high fantasy), cerita selalu ditandai adanya fokus konflik antara yang baik (good) dan yang jahatr (evil), antara kebaikan dan kejahatan. Latar dapat bervariasi, bisa masa lalu atau masa yang akan datang, yang berbeda dan jauh dengan latar kehidupan kita. Contoh Lord of the Rings, Five Elements.
  3. Fiksi sain (science fiction) fiksi spekulatif berdasarkan sejumlah inovasi dalam sain dan teknologi, pseudo-sain atau pseudo-teknologi. Cerita ini biasanya berkaitan dengan kehidupan di masa depan (future worlds).

4. Sastra Tradisional

  1. Fabel (fabel) adalah cerita binatang yang dimaksudkan sebagai personifikasi karakter manusia. Binatang yang dijadikan tokoh dapat bertindak layaknya manusia biasa.
  2. Dongeng rakyat (folktales, foklore) cerita tradisional yang disampaikan secara lisan dan turun temurun sehingga selalu terdapat variasi penceritaan walau isinya kurang lebih sama.
  3. Mitos (myths) yakni cerita yang berkaitan dengan dewa-dewa atau tentang kehidupan supernatural yang mengandung sifat pendewaan manusia atau manusia keturunan dewa.
  4. Legenda (legends) mempunyai kemiripan dengan mitologi, tetapi legenda sering memiliki atau berkaitan dengan kebenaran sejarah. Legenda menampilkan tokoh sebagai hero yang memiliki kehebatan dan dikaitkan dengan aspek kesejaahan.
  5. Epos (falk epics) merupakan cerita panjang  yang berbentuk syair (puisi) dengan pengarang yang tidak pernah diketahui, anonim. Cerita berlatar di suatu masyarakat atau bangsa yang terjadi pada masa lampau yang kadang-kadang tidak jelas latar waktunya.

5. Puisi

Sebuah karya sastra disebut puisi jika di dalamnya terdapat pendayagunaan berbagai unsur bahasa untuk mencapai efek keindahan. Bahasa puisi singkat dan padat, dengan sedikit kata tetapi dapat mendialogkan banyak hal. Pendayagunaan bahasa dapat berupa: permainan bunyi, sarana retorika, diksi, citraan, dan gaya bahasa. Genre puisi dapat berwujud seperti: lagu/temang dolanan. Lirik-lirik tembang nina bobo (nursery rhymes), puisi naratif, dan puisi personal.

Puisi naratif adalah puisi yang di dalamnya mengandung cerita atau sebaliknya cerita yang dikisahkan dengan cara puisi. Puisi personal adalah puisi modern yang sengaja ditulis untuk anak-anak baik oleh penulis dewasa maupun anak-anak dengan tema yang beragam.

6. Nonfiksi

  1. Buku informasi (informational books) yang terdiri atas berbagai macam buku yang mengandung informasi, fakta, konsep, hubungan antarfakta dan konsep yang mampu menstimuli keingintahuan anak atau  pembaca.
  2. Biografi (biography) yakni buku yang berisi riwayat hidup seseorang untuk memberi kejelasan berbagai hal menyangkut orang tersebut, menguraikan sikap dan pandangan hidupnya, dan juga memberitahukan atau mengkla­rifikasi sesuatu yang selama ini belum diketahui orang.

Berdasarkan kategori Lukens di atas, genre sastra anak dapat disederhanakan menjadi:

  1. Genre Puisi
  2. Genre Fiksi
  3. Genre Nonfiksi
  4. Genre  Sastra Tradisional
  5. Genre Komik

Daftar Pustaka

Tarigan, Henry Guntur. (1995). Dasar-dasar Psikosastra. Bandung: Angkasa.

Witakania. (2008). Aspek Psikopedagogik dalam Sastra Anak.

Puryanto, Edi. (2008). Konsumsi Anak dalam Teks Sastra di Sekolah. Makalah dalam Konferensi Internasional Kesusastraan XIX HISKI.

Wahidin. (2009). Hakikat Sastra Anak. Tersedia [Online]: http://makalahkumakalahmu.wordpress.com/ 2009/03/18/hakikat-sastra-anak/ (30 Oktober 2012)

Rokhmansyah, Alfian. (2009). Pengertian, Hakikat, dan Ciri Sastra Anak. Tersedia [Online]: http://blog.unnes.ac.id/cahsotoy/2009/12/11/halo-dunia/ (30 Oktober 2012)

Model Pembelajaran KEMP

Jerol E. Kemp berasal dari California State Univercity di Sanjose. Kemp mengembangkan model desain instruksional yang paling awal bagi pendidikan. Model Kemp memberikan bimbingan keada para siswanya untuk berpikir tentang masalah – masalah umum dan tujuan –tujuan pembelajaran. Model ini juga mengarahkan para pengembang desain instruksional untuk melihat karakteristik para siswa serta menentukan tujuan- tujuan belajar yang tepat. Langkah berikutnya adalah spesifikasi isi pelajaran dan mengembangkan pretest dari tujuan – tujuan yang telah ditetapkan. Selanjutnya adalah menetapkan strategi dan langkah – langkah dalam kegiatan belajar mengajar serta sumber- sumber belajar yang akan digunakan. Selanjutnya , materi / isi (content) kemudian di evaluasi atas dasar tujuan – tujuan yang telah di rumuska. Langkah berikutnya adalah melakukan identifikasi dan revisi didasarkan atas hasol- hasil evaluasi.

Perencanaan desain pembelajaran model Kemp dapat digunakan pada tingkat sekolah dasar, sekolah lanjutan, maupun perguruan tinggi.

Desain Pembelajaran Model Kemp ini dirancang untuk menjawab tiga pertanyaan, yakni :

  1. Apa yang harus di pelajari siswa (tujuan pembelajaran )
  2. Apa atau bagaimana prosedur,dan sumber- sumber belajar apa yang tepat untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan (kegiatan, media, dan sumber belajar yang digunakan).
  3. Bagaimana kita tahu bahwa hasil belajar yang diharapkan telah tercapai (evaluasi)

Langkah – langkah pengembangan desain pembelajaran model Kemp, terdiri dari delapan langkah, yakni :

  1. Menentukan tujuan instruksional umum (TIU) atau kompetensi dasar, yaitu tujuan umum yang ingin di capai dalam mengajarkan masing- masing pokok bahasan.
  2. Membuat analisis tentang karakteristik siswa. Analisis ini diperlukan antara lain untuk mengetahui apakah latar belakang pendidikan dan sosial budaya siswa memungkinkan untuk mengikuti program , serta langkah- langkah apa yang perlu diambil.
  3. Menentukan tujuan instruksional secara spesifik, operasional, dan terukur (dalam KTSP adalah indikator). Dengan demikian, siswa akan tahu apa yang harus dikerjakan, bagaimana mengerjakannya, dan apa ukurannya bahwa ia telah berhasil. Bagi guru, rumusan itu akan berguan dalam menyusun tes kemampuan /keberhasilan dan pemilihan materi/bahan belajar yang sesuai.
  4. Menentukan materi/ bahan ajar yang sesuai dengan tujuan instruksional khusus (indikator) yang telah dirumuskan. Masalah yang sering kali dihadapi guru- guru adalah begitu banyakknya materi pelajaran yang harus diajarkan dengan waktu yang terbatas. Demikian juga, timbul kesulitan dalam mengorganisasikan materi/ bahan ajar yang akan disajikan kepada para siswa. Dalam hal ini diperlukan ketepatan guru dalam memilih dan memilah sumber belajar, materi, media,dan prosedur pembelajaran yang akan digunakan.
  5. Menetapkan penjajagan atau tes awal (preassesment). Ini diperlukan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan awal siswa dalam memenuhi prasyarat belajar yang dituntut untuk mengikuti program pembelajaran yang akan dilaksanakan. Dengan demikian, guru dapat memilih materi yang diperlukan tanpa harus menyajikan yang tidak perlu, sehingga siswa tidak menjadi bosan.
  6. Menentukan strategi belajar mengajar, media dan sumber belajar. Kriteria umum untuk pemilihan strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan instruksional khusus (indikator) tersebut, adalah efisiensi, keefektifan, ekonomis, kepraktisan, melalui suatu analisis alternatif.
  7. Mengoordinasikan sarana penunjang yang diperlukan meliputi biaya, fasilitas, peralatan, waktu, dan tenaga.
  8. Mengadakan evaluasi. Evaluasi ini sangat perlu untuk mengontroldan mengkaji keberhasilan program secara keseluruhan, yaitu siswa, program pembelajaran, alat evaluasi (tes), dan metode/strategi yang digunakan.

Semua komponen diatas saling berhubungan satu dengan yang lainnya, bila adanya perubahan atau data yang bertentangan pada salah satu komponen mengakibatkan pengaruh pada komponen lainnya. Dalam lingkaran model Kemp menunjukkan kemungkinan revisi tiap komponen bila diperlukan. Revisi dilakukan dengan data pada komponen sebelumnya maupun sesudahnya. Berbeda dengan pendekatan sistem dalam pembelajaran, perencanaan desain pembelajaran ini bisa dimulai dari komponen mana saja, jadi perencanaan desain boleh dimulai dengan merencanakan pokok bahasan terlebih dahulu, atau mungkin dengan evaluasi. Komponen mama yang di dahulukan serta di prioritaskan yang dipilih bergantung kepada data apa yang sudah siap, tersedia, situasi,dan kondisi sekolah,atau bergantung pada pembuat perencanaan itu sendiri.

1. Pokok Bahasan dan Tujuan Umum (Goals, Topic, and General Purposes)

Pengertian Goals, Topic, and General Purposes jika dipadukan menjadi satu pengertian adalah “tujuan umum”. Dalam prosedur pengembangan pembelajaran biasa disebut tujuan instruksional umum.

Pokok Bahasan

Pokok bahasan menjadi dasar dalam pembelajaran dan menggambarkan ruang kingcup pembelajaran itu sendiri. Pada Sekolah Dasar kelas rendah, tema atau topic bahasan biasanya lebijh sederhana umumnya nyata pada pengalaman siswa sehari-hari. Sedangkan untuk kelas tinggi biasanya pokok bahasan disesuaikan dengan SK dan KD yang telah dikeluarkan oleh BSNP.

Tujuan Pembelajaran Umum

Tujauna pembelajaran umum (dalam, Rusman, 2011: 170) adalah tujuan pembelajaran yang sifatnya masih umum dan belum dapat menggambarkan tingkah laku yang lebih spesifik. Tujuan pembelajaran umum dapat dilihat dari setiap pokok bahasan suatu mata pelajaran yang ada di dalam silabus atau kurikulum.

Biasanya tujmuan umum ditandai dengan kata “memahami”,”mengetahui” dan sebagainya. Kata kerja semacam itu tidak operasional dan sukar menentukan criteria dan spesifikasinya, sehingga susah untuk diukur.

2. Karakteristik Siswa (Learner Characteristic)

Tujuan mengetahui karakteristik siswa adalah untuk mengukur, apakah siswa akan mencapai tujuan belajar atau tidak.

Contoh:

Sasaran                             : Siswa Sekolah

Jumlah Siswa                   : 30

Kemampuan Membaca    : 12-14

Kematangan                     : cukup menguasai cara balajar inquiri discovery

3. Tujuan Pembelajaran Khusus (Learning Objective)

Tujuan pembelajaran khusus merupakan penjabaran dari tujuan pembelajaran umum. Tujuan ini dirumuskan oleh guru dengan maksud agar tujuan pembelajaran tersebut lebih spesifik dan mudah diukur tingkat ketercapaiannya.

Dalam menyusun tujuan pembelajaran khusus seorang guru harus memperhatikan beberapa criteria penyusunan tujuan pembelajaran khusus yang baik, yaitu menggunakan kata kerja operasional, dirumuskan dalam bentuk hasil belajar, dalam bentuk kegiatan dan perilaku siswa, harus mengandung satu kemampuan, sebagaimana penyusunan indicator.

Tujuan merupakan dasar untuk mengukur keberhasilan pemebelajaran dan juga menjadi landasan untuk menentukan materi, stretategi, media dan evaluasi pembelajaran.

4. Klasifikasi Tujuan Pembelajaran

Klasifikasi tujuan terdiri dari tiga domain atau skema, yaitu:

  1. Domain Kognitif, yaitu menenkankan pada aspek intelektual dan memiliki jenjang dari rendah samapai tinggi, yaitu 1) Pengetahuan menitiberatkan pada sapek ingatan terhadap materi yang telah dipelajarai mulai dari fakta sampai teori. 2) Pemahaman tingkat awal untuk dapat menjelaskan suatu konsep. 3) Aplikasi, yaitu kemampuan menggunakan bahan yang telah dipelajari kedalam situasi yang nyata. 4) Analisis, kemampuan dalam merinci bahan menjadi bagian-bagian yang mudah dimengerti. 5) Sintesis, kemampuan mengombinasi bagian-bagian menjadi sesuatu yang baru. 6) Evaluasi, kemampuan untuk mempertimbangkan nilai berdasarkan criteria tertentu.
  2. Domain Afektif, yaitu menekankan pada sikap, perasaan, emosi, dan karakterisitik moral yang diperlukan untuk kehidupan di masyarakat. Domain afektif memiliki lima tingkatan yaitu: 1) Penerimaan, misalnya kemampuan siswa untuk mendengarkan materi pelajaran yang disampaikan oleh guru dan melihat perasaan, antusiasme,dan semangat belajar siswa. 2) responding, kemampuan siswa untuk menerima timbale balik positif terhadap lingkungan dalam pembelajaran. 3) Penilaian, yaitu penerimaan terhadap nilai-nilai yang ditanamkan dalam pembelajaran, membuat pertimbangan terhadap berbagai nilai untuk diyakinkan dan diaplikasikan. 4) Pengorganisasian, yaitu kemampuan siswa dalam hal mengorganisasikan suatu siste nilai, dan 5) Karakterisasi, yaitu pengembangan dan internalisasi dari tingkatan pengorganisasian terhadap representasi kehidupan secara luas.
  3. Domain Psikomotor, yaitu domain yang menekankan pada gerakan-gerakan fisik, kecakapan fisik, keterampilan fisik halus maupun kasar. Domain ini lebih menekankan pada mata pelajaran yang berhubungan dengan kemampuan keterampilan seseorang. Ada enam tingkatan yaitu persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan mekanis terpola, gerakan respon kompleks, penyesuaian pola gerak, dan keterampilan matural.

Tujuan itu bertahap (dalam, Rusman, 2011: 174) dari mudah (rendah), sedang, sulit (tinggi).

Kelebihan dan keterbatasan tujuan.

A. Kelebihan

1) Memberi tahu siswa tentang apa yang harus dicapainya.

2) Menolong guru untuk berpikir lebih spesifik, mempermudah, mengatur, dan menyusun sistematika pelajaran.

3) Menunujukan macam dan ragam dari kegiatan yang diharapkan dari keberhasilan belajar.

4)  Menjadi dasar evaluasi, baik terhadap hasil belajar siswa maupun untuk mengukur keefektifan program instruksional.

B. Keterbatasan

1)      Kebanyakan tujuan hanya bertujuan untuk tingkat penguasaan pengetahuan (ranah kognitif).

2)      Tujuan psikomotor dan kognitif lebihn mudah untuk diketahui, tetapi tujuan afektif sulit dinyatakan tujuan maupun cara mengukurnya.

3)      Menyusun struktukr pelajaran tertentu seperti matematika, ilmu pengetahuan alam dan pelajaran bahasa lebih mudah dibandingkan dengan seni, ilmu0ilmu social dan humanistis.

4)      Dengan menetapkan ukuran suatu tujuan, rasanya pendekatan belajar kurang manusiawi, dan mengnggap bahwa prosedur pendidikan terlalu mekanis dan tidak personal.

5)      Dengan menetapkan ukuran suatu tujuan, rasanya pendekatan belajar kurang manusiawi, dan menganggap bahwa prosedur pendidikan terlalu makanis dan tidak professional.

5. Materi/Bahan Pelajaran (Subject Content)

Subject Content adalah materi atau isi pokok bahasan.Hal ini harus berkaitan dengan tujuan yang telah ditatapkan.Jadi, bila siswa diajarkan tentang fakta dan konsep, harus ada penerapannya tidak hanya berhenti sampai prinsip.Untuk menyusun materi pokok bahan ajar biasanya kita buat pertanyaan-pertanyaan seperti berikut ini.

  1. Apakah spesifikasi pokok bahasan?
  2. Fakta-fakta, konsep-konsep, dan prinsip-prinsip apa yang berhubungan dengan pokok bahasan?
  3. Langkah-langkag apa yang ditempuh dari prosedur yang berkaitan dengan pokok bahasan?
  4. Teknik apa yang diperlukan falam melakukan suatu keterampilan?

Pokok bahasan yang diajarkan hendaknya berkaitan dengan kebutuhan siswa.Untukm pokok bahsan yang terikat oleh urut kegiatan tertentu, seperti pada pelajaran keterampilan, sistematika penyampaian, isi mengikuti langkah-langkah yang sudah ditentukan urutannya (step by step), yang disebut task analysis.

Contoh:

  1. Mempelajari materi pokok bahasan dari buku teks yang dianjurkan seperti berikut ini:
    1. Daniel Bell, Toward the World 2000
    2. Arthur Clarks, Profiles of the Future
    3. Don Faben, Dynamics of Change
    4. Robert Heilbroner, The Future of History
    5. Herman Khan and Anthony Weiner, The Year 2000
    6. Kemungkinan yang akan berubah atau berkembang di masa depan (menjadi beberapa subpokok bahasan) sebagai berikut:
      1. Perubahan tingkah laku
      2. Penggunaan tanah
      3. Prioritas kedokteran
      4. Pengawasan cuaca
      5. Prioritas dalam masyarakat
      6. Perkembangan kota

6. Penjajakan terhadap Siswa (Preassessment)

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menguji, apakah [erencanaan yang telah disusun pada empat langkah dapat diteruskan ke langkah selanjutnya, yaitu kegiatan pembelajaran (teaching, learning activities and resource).Jadi preassessment adalah menguji cobakan rencana pokok bahasan, tujuan belajar, dari rencana isi. Data dari hasil preassessment kemudian diolah untuk disimpulkan menjadi:

  1. Apakah tujuan belajar yang telah ditentukan mungkin dapat dicapai dengan kondisi dan situasi siswa seperti data yang didapatkanoleh karakteristik siswa (langkah kedua)
  2. Apakah siswa berminat terhadap pokok bahasan sesuai dengan tujuan belajar (langkah ketiga)
  3. Apakah yang perlu diajarkan dan apa yang tidak sesuai dengan perencanaan isi pokok bahasan (langkah keempat)

Bila hasil preassessment tidak dapat memenuhi hal di atas, maka perencanaan desain perlu direvisi.

7. Kegiatan Belajar Mengajar dan Media (Teaching/Learning Activities and Resource)

Menurut B.F Skinner dan kawan-kawan ada sepuluh prinsip belajar, yaitu:

  1. Persiapan belajar (prelearning preparation)
    1. Minimal sebelum belajar kita tahu tujuan belajar itu apa, apa yang menjadi pendahuluan belajar atau syarat-syarat sehingga nanti akan dicapai tujuan maksimal.
    2. 2.      Motivasi (motivation)
      1. Berdasarkan pengalaman siswa, mana yang disukai siswa agar perhatian belajar dapat meningkat.
      2. 3.      Perbedaan individual (individual differences)
        1. Membuat desain berdasarkan pengalaman belajar siswa yang menyangkut empat segi, yaitu penentuan kecepatan belajar, penentuan tingkat, penentuan kemampuan, dan bahan pelajaran apa (materi) yang palin tepat.
        2. Kondisi pembelajaran (instructional condition)
          1. Belajar akan berhasil apabila tujuannya sudah jelas
          2. Belajar juga akan lebih mudah apabila materi yang dipelajari juda teratur mulai dari yang mudah dipelajari hingga ke hal yang kompleks.

Kegiatan Belajar Mengajar

Tiga jenis kegiatan belajar-mengajar adalah:

1. Pembelajaran Klasikal (group presentation)

Pengajaran klasikal adalah kegiatan penyampaian pelajaran kepada sejumlah siswa. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh pengajar dengan berceramah didepan kelas. Kegiatan ini dianggap baik apabila siswa aktif berpartisipasi dalam pembelajaran, keaktifan itu digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu 1) actve interaction with the instructor siswa bertanya dan pengajar menjawab atau siswa lain berkonsultasi sesudah pengajar. 2) working at the student’s seat, siswa mencatat apa yang diajarkan atau mengerjakan tugas yang diberikan. 3) other mental participation, siswa juga berpikir tentang ap yang dikemukakan dan mempersiapkan bahan pertanyaan yang akan ditanyakan.

2. Belajar Mandiri (individual learning)

Bentuk belajar mandiri adalah self instruction (modul), independent study, self paced learning. selain itu ada pula bentuk belajar mandiri, seperti student contracts, textbook, dll.

8. Interaksi antara guru dan siswa (interaction between teacher and student)

Pertemuan tatap muka antara beberapa siwa dalam satu kelompok dan pengajar menjadi tekanan disini, seperi beridskusi, tukar-menukar pikiran, memecahkan masalah bersama tentang hasil belajar dari pengajaran klasik, dan belajar mandiri.

Kegiatan Pembelajaran

Pendahuluan

Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisi aktif dalam pembelajaran.

Inti

Proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenagkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minta, dan perkembangan fisik serta mental peserta didik.

Penutup

Merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak-lanjut.

Kesimpulan :

  1. Hal-hal apa saja yang diperlukan untuk diajarkan kepada siswa.
  2. Hal-hal apa saja yang perlu dipelajari oleh siswa untuk belajar mandiri sesuai kemampuan.
  3. Hal-hal apa saja yang harus dibicarakan bersama dan memerlukan interaksi aktif antara siswa dengan pengajar dan antara siswa dengan siswa.

Media Pembelajaran (Instructional Resource)

Bagaimana memeilih media? Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan media, yaitu:

  1. Apakah media itu akan dipergunakan klasikal atau belajar sendiri?
  2. Apakah media visual yang akan ditampilkan diam atau bergerak?
  3. Jika media visual diam, apakah didisplay atau diproyeksikan?
  4. Jika bergrak, apakah berupa film atau video tape?
  5. Apakah media visual akan dilengkapi dengan rekaman suara yang terpisah atau terpadu tetapi dalam bentuk variasi?
  6. Jika mempergunakan lebih dari satu media sekaligus bagaimana cara mempergunakannya?
  7. Apakah media itu akan dipergunakan oleh pengajar atau oleh siswa?
  8. Jika akan memutar film, proyektor yang akan dipergunakan film 8mm atau 16mm?
  9. Juga memprhatikan biaya?
  10. Pelayanan penunjang (support service)

Pelayanan penunjang tersebut bisa berupa petugas, dana, fasilitas, peralatan, teknisi, staf administrasi dan lain-lain. Pelayanan penunjang di gunakan mulai dari awal penyusunan desain sampai dengN BERkhirnya proses belajar-mengajar. Adapun petuas yang menunjang mulai dari perencanaan desain sampai dengan tuntasnya pelaksanaan program secara menyeluruh dan lengkap, yaitu:

  1. Tenaga ahli dan pembantu
  2. Tenaga ahli seperti  satu orang pengajar, 1 orang perancang, satu orang ahli media.
  3. Tenaga pembantu seperti asisten pengajar, juru foto, graphic  artist, kepala bagian perpustakaan, teknisi, asisten laboratorium, tenaga administrasi, pesuruh.
    1. Pengadaan bahan
  1. bahan-bahan tersebut dapat berupa bahan untuk grafis, rekaman suara, cetak, praktikum laboratorium, buku teks, fotografi, dan  lain-lain

fasilitas

  1. Ruang (kelas) unuk kelompok besar, kelompok kecil, untuk belajar mandiri (carrel) dan ruang proyeksi.
  2. Perpustakaan.
  3. Peralatan

Pemilihan peralatan hendaknya berdasarkan efiiensi dan di usahakan semurah-murahnya. Peralatan bisa berupa proyektor, tape recorder, camera, alat-alat laboratorium, alat-alat kantor, dan lain-lain.

  1. Penjadwalan waktu

Untuk seluruh kegiatan hendaknya di buat jadwal yang mengatur waktu setiap kegiatan proses belajar-mengajar, seperti:

  1. Jadwal pengajaran atau jadwal belajar, termasuk asisten
  2. Jadwal pemakaian ruangan
    1. Jadwal dan daftar peminjaman alat-alat dan buku teks, untuk melayani pengajar atau siswa.
    2. Pemasangan atau instalasi peralatan, display, dan lain-lain.
  3. Evaluasi

Ukuran pencapaian  (standart of achievment)

Sekurang-kurangnya ada dua macam cara mengukur pencapaian hasil belajar siswa, yitu dengan:

  1. Norm Referenced Testing, yaitu di kategorikan orang sebagai cara lama karena pencapaian siswa ukurannya sangat relatif. Hasil belajar relatif kurang  ada alasan yang kuat untuk di katakan baku karena hasil belajar seseorang siswa hanya di bedakan dengan hasil yang di capai oleh teman sekelasnya atau rata-rata pada satu sekolah di bandingkan dengan hasil rata-rata dengan sekolah lain.
  2. Criterion Referenced Testing, adalah cara yang di kehendaki dalam rangka proses belajar-mengajar dengan mempergunakan desain sistem instruksional. Sebab dengan cara penilaian ini tiap siswa di tuntut untuk dapat mencapai tujuan belajar yang telah di tentukan dengan jelas sebelum siswa melakukan kegiatan belajarnya.penguasaan belajar tuntas (mastery learning)pada dasarnya yaitu tiap siswa di harapkan dapat mencapai seluruh tujuan belajar yang telah di tentukan sebelumnya dengan jelas dan rinci.

Menilai tujuan Belajar Kognitif

Tes tertulis bisa berbentuk tes objektif dan tes esai. Macam tes objektif biasanya dapat berupa: benar-salah (true-false), menjodohkan (matching), mengisi jawaban pendek (short answer), dan multiple choice. Tes esay umumnya di pergunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam mengukur, menghubungkan, mengintegrasi, dan menilai suatu ide.

Menilai Tujuan Belajar

Tujuan belajar Psikomotor bersifat keterampilan (motor skill). Jadi tujuan belajarnya adalah siswa dapat atau terampil mengerjakan sesuatu.

Menilai Tujuan Belajar Afektif

Menilai tujuan belajar siswa yang berhubungan dengan sikap dan nilai, perlu di kumpulkan data siswa dengan berbagai cara misalnya:

a. Meneliti tingkah laku siswa

b.Mendengarkan pendapat dan komentar siswa

c.Meneliti hasil kuesioner yang telah diisi oleh siswa

d. Mengajuakan pertanyaan tertulis dengan bentuk multiple choice

e. Mengajuakan pertanyaan tertulis dengan jawaban rentang (ranting scale)

Kelebihan Model Kemp

Model pembelajaran kemp ini, di setiap melakukan langkah atau prosedur terdapat revisi terlebih dahulu gunanya untuk menuju ke tahap berikutnya. Tujuannya adalah apabila terdapat kekurangan  atau kesalahan di tahap tersebut, dapat di lakukan perbaikan terlebih dahulu sebelum melangkah ke tahap berikutnya.

Kekurangan Model Kemp

Model pembelajaran Jerold E. Kemp ini agak condong ke pembelajaran klasikal atau pembelajaran di kelas. Oleh karena itu, peran guru di sini mempunyai pengaruh besar, karena mereka di tuntut dalam rangka program pengajaran, instrumen evaluasi, dan strategi pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Rusman. 2011. Model-Model Pembelajaran. Bandung: PT RajaGrafindo Persada.

Afandi, Muhammad dan Badarudin. 2011. Perencanaan Pembelajaran.di Sekolah Dasar. Bandung: Alfabeta

Model Pembelajaran Hanafin & Peck

A.    PERENCANAAN PEMBELAJARAN

Perencanaan berasal dari kata rencana atau dalam Bahasa Inggris kita biasa menyebutnya “Planing”. Dari kata rencana itu sendiri kita dapat artikan sesuatu yang akan dilakukan. Dengan demikin perencanan adalah susunan dari beberapa hal yang akan dilakukan. Seperti dikutip dalam buku Administrative Action Techniques of Organization and Management karangn William H. Newman (Abdul Majid, 2011:15) menjelaskan bahwa :

‘ Perencanaan adalah menentukan apa yang akan dilakukan. Perencanaan mengandung rangkaian-rangkaian putusan yang luas dan penjelasan-penjelasan dari tujuan, penentuan kebijakan, penentuan program, penentuan metode-metode dan prosedur tertentu dan penentuan kegiatan berdasarkan jadwal sehari-hari.’

Perencanaan erat kaitannya dengan tujuan dari diadakannya suatu kegiatan. Ketika suatu kegiatan memiliki tujuan yang jelas maka penjabaran dari tujuan tersebut adalah susunan rencana yang akan dijalankan. Perencanaan menjadi penentu dari kebijakan-kebijakan yang dibuat, mennentukan program-program yang dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan awal, serta menentukn metode-metode dan prosedur tertentu agar kegiatan yng dilaksnakan dapat berjalan dengan lancar dan memberikan manfaat. Dengan kata lain, perencanaan dapat menghasilkan keputusan-keputusan yang disusun dan akan dilaksanakan  dikemudian hari. Seperti yang dikemukakan oleh Nana Sudjana dalam Abdul Majid (2011:16) bahwa perencanan adalah proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang.

Dilihat dari definsi-definisi perencanan di atas, menunjukkan bahwa perencanaan merupakan penentu suatu keputusan yang akan dilakukan di masa yang akan datang guna mencapai tujuan yang diinginkan. Dan dirumuskan pada suatau rangkaian-rangkaian atau langkah-langkah yang sistematis. Perumusan inilah  yang menjadi titik awal dibuatnya rencana-rencana.

Pembelajaran menurut Dengeng (Afandi dan Badarudin, 2011:2) adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Artinya bahwa, pembelajran merupakan cara memberikan ilmu pada siswa tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan pengetahuan. Sebelum dilaksanakannya pembelajaran, seorang guru harus memiliki panduan atau pedoman agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan lancar serta yang paling penting adalah tujuan dari diadakannya pembelajarn dapat tercapai.

Pedoman tersebut tidak lain adalah perencanaan. Jadi pada intinya, perencanaan pembelajaran adalah susunan rencana yang sistematis yang berisi bagaimana proses pembelajaran akan dilaksanakan dan kendala-kendala apa yang kemungkinan akan terjadi serta media apa sajakah yang diperlukan untuk menunjang kesuksesan pembelajaran yang berarti tujuan awal telah tercapai.

B.     MODEL HANAFIN DAN PECK

Model Hanafin dan Peck merupakan salah satu dari banyak model desain pembelajaran yang berorietasi produk. Model berorientasi produk adalah model desain pembelajaran utuk menghasilkan suatu produk, biasanya media pembelajaran (Afandi dan Badarudin, 2011:22).

Menurut Hanafin dan Peck (Afandi dan Badarudin, 2011:26) model desain pembelajaran terdiri dari tiga fase yaitu Need Assessment (Fase Analisis Keperluan), Design (Fase Desain), dan Develop/Implement (Fase Pengembangan dan Implementasi). Dalam model ini disetiap fase akan dilakukan penilaian dan pengulangan.

Fase pertama dari model Hanafim dan Peck adalah analisis kebutuhan (Need Assessment). Di model sebelumnya yakni model ADDIE juga menerangkan bahwa tahap pertama dari model tersebut adalah analisa (Analysis) yang didalamnya memuat Need Assessment.

Pengertian analisis kebutuhan dalam konteks pegembangan kurikulum menurut John Mc-Neil (Wina Sanjaya, 2008:91) ialah : ‘the process by which one defines educational needs and decides what their priorities are’. Artinya, bahwa analisis kebutuhan merupakan sebuah proses yang didefinisikan sebagai sebuah kebutuhan pendidikan dan ditentukan sesuai dengan prioritasnya. Jadi pada intinya, proses ini merupakan proses untuk menentukan hal utama dari apa yang dibutuhkan dalam pendidikan.

Menganalisis kebutuhan menjadi hal dasar dalam mendesin pembelajaran yang akan dilaksanakan. Tidak mudah mengidentifikasi apa yang dibutuhkan dalam pembelajaran. Terdapat langkah-langkah dalam fase analisis kebutuhan, Glasgow dalam Wina Sanjaya (2008:93) mengemukakan secara detail langkah-langkah need assessment yakni :

 1. Tahapan Pengumpulan Informasi

Dalam merancang pembelajaran pertama kali seorang desainer perlu memahami terlebih dahulu informasi tentang siapa dapat mengerjakan apa, siapa memahami apa, siapa yang akan belajar, kendala-kendala apa yang dihadapi dan lain sebagainya. Berbagai informasi yang dikumpulkan akan bermanfat dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai. Jadi, informsi yang terkumpul digunakan sebagai dasar dalam merancang sistem pembelajaran. Model Hanafin dan Peck ini berorintasi pada produk sehingga informasi yang dibutuhkan mislnya bagaimana cara pembuatan media pembelajaran dengan bahan yang ada.

 2. Tahapan Identifikasi Kesenjangan

dalam mengidentifikasi kesenjangan Kaufan dan English dalam Wina Sanjaya (2008), menjelaskan bahwa terdapat lima elemen yang saling berkaitan yakni Input, Proses, Produk, Output dan Outcome. Input meliputi kondisi yang tersedi saat ini misalnya tentang keuangan, waktu, bangunan, guru,  pelajar, kebutuhan. Komponen proses, meliputi perencanaan, metode, pembelajaran individu, dan kurikulum.  Komponen produk, meliputi penyelesaian pendidikan, keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang dimiliki. Komonen output, meliputi ijazah kelulusan, keterampilan prasyarat, lisensi. Komponen Outcome, meliputi kecukupan dan kontribusi individu atau kelompok saat ini dan masa depan.

Dari analisis diatas dapat digambarkan masalah dan kebutuhan pada setiap komponen yakni Input, proses, produk dan Output.

 3. Analisis Performance

Tahap selanjutnya adalah tahap menganalisis performance. Pada tahap ini sorang guru yang sudah memahami informasi dan mengidentifikasi kesenjangan yang ada, kemudian mencari cara untuk memecahkan kesenjangan tersebut. Baik dengan perencanaan pembelajaran atau dengan cara lain, seperti melalui kebijakan pengelolaan baru, penentuan struktur organsasi yang lebih baik, atau mungkin melalui pengembangan bahan dan alat-alat. Jika dilihat dari orientasi model Hanafin dan Peck yang mengarah ke produk maka dalam analisis performance msalah yang mungkin bisa diselesaikan adalah tentng pengembangan bahan dan alat-alat.

 4. Mengidentifikasi Kendala Beserta Sumber-sumbernya

Tahap keempat dalam need assessment adalah mengidentifikasi berbagai kendala yang muncul beserta sumber-sumbernya. Maksudnya, kita harus mengantisipsi kendala yang mungkin akan muncul. Kendala dapat berupa waktu, fasilitas, bahan, personal dan lain sebginya. Dan sumbernya bisa berasal dari orang yang terlibat (guru atau siswa), berasal dari fasilitas yang mendukung atau tidak, dan jumlah pendanaan beserta pengaturannya.

 5. Identifikasi Krakteristik Siswa

Siswa menjadi pusat dalam pembelajaran, oleh karena itu identifikasi karakteristik siswa sangat dibutuhkan. Sebab, tidak ada siswa yang sama sehingga penangan dari setiap masalah yang ada di setiap siswa akan berbeda pula. Identifikasi karakteristik siswa meliputi usia, jens kelamin, level pendidikan, gaya belajar dan lain sebagainya. Dengan identifikasi tersebut dapat bermanfaat ketika kita menentuka tujuan yang harus dicaai, pemilihan dan penggunaan strategi embelajaran yang dianggap cocok.

 6. Identifikasi Tujuan

Mengidentifikasi tujuan yang ingin dicapai merupakan tahap keenam dalam need assessment. Tidak semua kebutuhan menjadi tujuan yang ingin dicapai, namun kebutuhan-kebutuhan yang diprioritaskanlah yang menjadi tujuan agar dapat segera dipecahkan sesuai kondisi.

 7. Menentukan Permasalahan

Tahap terakhir adalah menentukan permasalahan, sebagai pedoman dalam penyusunan proses desain pembelajaran. Dalam model Hanafin dan Peck berorientasi produk, sehingga masalah yang biasanya timbul adalah tentang media pembelajaran.

Setelah semua langkah dijalankan, kemudian dilakukan sebuah tes atau penlaian terhadap hasil dalam fase ini. Penilaian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidakkah kebutuhan yang seharusnya ada tetapi tidak tercatat. Sebab, hal ini justru akan menjadikan msalah baru di masa yang akan datang.

Fase kedua dari Hanfin dan Peck adalah fase desain (Design). Hanafin dan Peck (Afandi dan Badarudin, 2011) menytakan fase desain bertujuan untuk mengidentifikasikan dan mendokumenkan kaidah yang paling baik untuk mencapai tujuan pembuatan media tersebut. Dokumen tersebut dapat berupa story board. Jadi, hasil dari need assessment kemudian dituangkan ke dalam sebuah papan dan caranya dengan mengikuti aktifitas yang sudah dianalisis dalam need assessment sebelumnya. Dokumen ini nantiya akan memudahkan kita dalam menentukan tujuan pembuatan media pembelajaran, karena merupakan sebuah papan.

Dalam fase kedua ini, tidak lupa dilakukan tes atau penilaian sebelum dilanjutkan ke fase pengembangan dan implementasi. Hanafin dan Peck telah menggambarkan (gambr 1) bahwa harus ada timbal blik dari setiap fase, hal ini mungkin membuat kita mudah megetahui kesalahan yang kita buat dan menjadi pembelajaran untuk kita.

Fase terakhir dari model Hanafin dan Peck adalah pengembangan dan implementasi. Hanafin dan Peck (Afandi dan Badarudin, 2011) mengatakan aktivitas yang dilakukan pada fase ini ialah penghasilan diagram alur, pengujian, serta penilain formatif dan sumatif. Penilaian formatif ialah penialain yang dijalankan saat proses pengembangan media berlangsung, sedangkan penilaian sumatif dijalankan pada akhir proses. Pada fase ini media dikembangkan dan pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang telah dibuat berdasarkan analisis kebutuhan dan desain yang telah dijalankan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Afandi, Muhammad dan Badarudin. (2011). Perencanaan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta

Majid, Abdul. (2011). Perencanaan Pembelajaran. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya

Perencanaan, Pembelajaran dan Model Pembelajaran ADDIE

A.  Perencanaan dan Pembelajaran

  1. Perencanaan

Perencanaan adalah menyusun langkah-langkah yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Mengutip pendapat William H. Newman dari buku Perencanaan Pembelajaran yang di tulis oleh Abdul Majid (2011 : 16) mengemukakan bahwa:

Perencanaan adalah menentukan apa yang akan dilakukan. Perencanaan mengandung rangkaian-rangkaian putusan yang luas dan penjelasan-penjelasan dari tujuan, penentuan kebijakan, penentuan program, penentuan metode-metode dan prosedur tertentu yang penentuan kegiatan berdasarkan jadwal sehari-hari.

Terry ( Abdul Majid, 2011:16) menyatakan bahwa perencanaan adalah:

Menetapkan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kelompok untuk mencapai tujuan yang digariskan. Perencanaan mencakup kegiatan pengambilan keputusan. Untuk itu diperlukan kemampuan untuk mengadakan visualisasi dan melihat ke depan guna merumuskan suatu pola tindakan untuk masa mendatang.

Perencanaan juga dapat berarti memilih dengan cara menyeleksi serta menggabungkan sesuatu yang berhubungan dengan masa mendatang atau kepentingan di masa yang akan datang serta bagaimana usaha untuk mencapainya. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Cunningham ( Muhammad Afandi dan Badarudin, 2011:1) menjelaskan tentang perencanaan merupakan :

Menyeleksi dan menghubungkan pengetahuan , fakta, imajinasi dan asumsi untuk masa yang akan datang dengan tujuan memvisualisasi dan memformulisasi hasil yang diinginkan, urutan kegiatan yang diperlukan, dan perilaku dalam batas – batas yang dapat diterima yang akan digunakan dalam penyelesaian.

Pengertian mengenai perencanaan menurut beberapa ahli, menyimpulkan kepada kita bahwa Perencanaan adalah sesuatu hal yang dipersiapkan atau direncanakan dengan menggunakan beberapa langkah atau metode – metode, dimana langkah atau metode tersebut merupakan cara yang digunakan untuk mencapai sebuah tujuan.

 2.  Pembelajaran

“Proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar bagaimana belajar memperoleh dan memproses pengetahuan, ketrampilan, dan sikap.” (Dimyati dan Mudjiono, 2010:157)

Menurut pendapat Dadang Sukirman dan Nana Jumhana (2006:1) mengemukakan bahwa:

 Pembelajaran adalah suatu proses kegiatan yang ditata dan diatur sedemikian rupa dengan didasarkan pada berbagai aspek baik menyangkut aspek konsep hakikat pembelajaran, maupun ketentuan-ketentuan yuridis formal yang mengatur pelaksanaan pendidikan pada umumnya dan pembelajaran secara lebih khusus.

Heri Rahyubi (2012:233) mengemukakan bahwa “pembelajaran merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lain”

Pengertian pembelajaran jika disimpulkan dari beberpa ahli tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa pembelajaran merupakan sebuah proses atau sebuah kegiatan yang di dalamnya terdapat konsep yang digunakan untuk memberikan pelajaran mengenai pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang sebelumnya dirancang terlebih dahulu dalam sebuah perencanaan. Dari proses tersebut diharapkan dapat mencapai sebuah tujuan dala dunia pendidikan.

 B.  Model ADDIE

Pengembangan perangkat desain pembelajaran terdapat beberapa model, salah satunya adalah Model ADDIE. Model ADDIE adalah salah satu model desain pembelajaran yang memperlibatkan tahapan – tahapan dasar sistem pembelajaran yang sederhana dan mudah di pelajari. Model ADDIE ini muncul pada tahun 1990-an yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda. Model ADDIE juga dapat diterapkan untuk profesionalitas guru dan tenaga kependidikan di lembaga – lembaga pendidikan. Model ini menggunakan tahap pengembangan yaitu Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation. Sehingga dari tahap pengembangan yang digunakan, model ini sering diset dengan model ADDIE.

1.      Analysis

Analysis (Analisi) merupakan tahap awal yang digunakan dalam desain pembelajaran. Tahap ini merupakan suatu tahapan yang menjelaskan mengenai hal-hal yang harus dipelajari oleh peserta didik. Analisis ini juga digunakan untuk mengklarifikasi apakah ada masalah yang akan dihadapi sehingga nantinya dapat menemukan solusi yang tepat untuk menghadapi masalah dalam penyelenggaraan program pembelajaran.

“Tahap analisis merupakan suatu proses mendefinisikan apa yang akan dipelajari oleh peserta belajar, yaitu menganalisis kebutuhan, mengidentifikasi masalah, dan melakukan analisis tugas.” (Muhammad Afandi dan Badarudin, 2011:24). Sehingga hasil yang diharapkan dapat sesuai dengan hal-hal yang diharapkan sebelumnya.

 2.      Design

Design (Desain) merupakan tahap setelah proses analisis dimana tahap ini adalah tidak lanjut atau kegiatan inti dari langkah analisis. Desain pembelajaran juga dikatakan sebagai rancangan dalam proses pembelajaran. Desain disusun dengan mempelajari masalah, kemudian mencari solusi melalui identifikasi dari tahap analisis kebutuhan pada proses sebelumnya. Salah satu tujuan dari tahap ini adalah menentukan strategi pembelajaran yang tepat agar peserta didik dapat mencapai tujuan dalam proses pendidikan, khususnya dalam mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan dalam proses pembelajaran.

 3.      Development

Setelah terbentuknya desain pembelajaran pada tahap kedua, tahap selanjutnya adalah development atau tahap pengembangan, dimana desain yang sudah tersusun atau sudah terbuat kemudian ditindak lanjuti prosesnya melaui uji coba. Apakan desain yang sudah dibuat tersebut layak untuk digunakan atau tidak. Jika memang desain yang sudah diuji cobakan tersebut berhasil atau dapat digunakan, maka desain harus dikembangkan agar lebih baik dan tentunya mendukung proses pembelajaran untuk mencapai tujuannya.

Tahap pengembangan ini juga harus dikombinasikan atau dipadukan dengan media – media yang kiranya dapat mendukung pembelajaran. Selain itu, hal – hal yang berada disekitarnya tentunya harus berhubungan dan mendukung satu dengan yang lainnya. Oleh sebab itu, pembelajaran akan berjalan dengan baik jika hal yang satu dengan yang lain berhubungn dengan baik.

 4.      Implementation

Suatu rencana pembelajaran yang telah dibuat tidak akan kita ketahui hasilnya apabila tidak ada suatu tindakan yang dilakukan. Adanya tindakan tersebut sangat berarti karena pembelajaran akan memunculkan hal baru berupa dampak yang dapat dijadikan pengalaman atau bahkan acuan apabila telah membuahkan hasil, untuk itulah perlu adanya implementasi yang berarti pelaksanaan atau penerapan dari suatu rencana dimana ini merupakan salah satu model ADDIE yang menjadi satu kesatuan dengan tahap-tahap sebelumnya sebagai penyempurna dan cukup berpengaruh dalam pelaksanaan pembelajaran. 

 5.      Evaluation

Perencanaan pembelajaran yang disiapkan secara matang akan melewati tahap-tahap pengembangan model ADDIE ini dengan lancar dan berakhir pada tahap yang disebut dengan evaluasi. Evaluasi merupakan tahap dimana tindakan yang dilakukan adalah bertujuan untuk mengetahui keberhasilan suatu rencana pembelajaran, hal-hal yang dilakukan guna suksesnya tahap ini tidak semata-mata utuh pada tahap ini saja namun evaluasi dapat terjadi pula pada tahap-tahap sebelumnya. Dalam pelaksanaan evaluasi tersebut hendaklah memperhatikan tujuan-tujuan yang hendak dicapai pada awal perencanaan karena suatu evaluasi atau penilaian memiliki kriteria guna mengetahui ketercapaiannya sampai batas yang ditentukan atau tidak dan dari kegiatan tersebut diperlukan adanya informasi dan data-data yang diperlukan dari obyek yang akan dievaluasi guna kelancaran proses evaluasi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Afandi, Muhammad dan Badarudin. (2011). Perencanaan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta

Afandi, Muhammad. (2011). Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : Alfabeta

Dimyati dan Mudjiono. (2009). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka  Cipta

Majid, Abdul. (2011). Perencanaan Pembelajaran. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya

Rahyubi, Heri. (2012). Teori-Teori Belajar dan Aplikasi Pembelajaran Motorik. Bandung: Nusa Media

Soekamto, Toeti, dkk. (1993). Prinsip Belajar dan pembelajaran. Jakarta : Depdikbud

Sukirman, Dadang dan Jumhana, Nana. (2006). Perencanaan Pembelajaran. Bandung: UPI PRESS

Trianto. (2010). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-progresif. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup

Akbar, Muhammad Ali ( 2010 ). Model addie. [online]. Tersedia : http://alik3505.blogspot.com/2010/10/model-addie.html [11 september 2012 jam 07.40]

Agama dan Islam

A.  Pengertian Agama dan Sejarah Manusia Beragama

Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

Dalam bahasa Alquran “ din “ diartikan sebagai agama. Kata Din yang berasal dari akar bahasa Arab dyn mempunyai banyak arti pokok, yaitu: keberhutangan, kepatuhan, kekuasaan, kebijaksanaan dan kecenderungan alami atau tendensi.

Di dalam kamus bahasa Inggris terdapat kata yang oleh para ahli diterjemahkan dengan “agama”, yaitu kata “Religion”. Disamping diterjemahkan dengan agama kata “religion” juga diartikan dengan “kepercayaan kepada Tuhan dan dewa-dewa” serta “pemujaan kepada Tuhan dan dewa-dewa”. Kata “Religion” oleh para ahli bahasa Inggris juga diberikan sinonim dengan kata “Belief” dan “Faith” yang artinya keyakinan dan kepercayaan.

Sebuah agama biasanya melingkupi tiga persoalan pokok, yaitu:

  1. Kredial (keyakinan), yaitu keyakinan akan adanya sesuatu kekuatan supranatural yang diyakini mengatur dan mencipta alam.
  2. Ritual (peribadatan), yaitutingkah laku manusia dalam berhubungan dengan kekuatan supranatural tersebut sebagai konsekuensi atau pengakuan dan ketundukannya.
  3. Sosial, yaitu aturan hidup bermasyarakat. Sistem nilai yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya atau alam semesta yang dikaitkan dengan keyakinanya tersebut.

Manusia terdiri atas dimensi fisik dan dimensi non fisik yang bersifat potensial. Dimensi fisik terdiri atas berbagai domain rohaniyah yang saling berkaitan, yaitu jiwa ( phscye), pikiran (ratio), dan rasa (sense). Dan keyakinan akan adanya Tuhan dicapai manusia melalui 3 pendekatan, antara lain:

  1. Material experience of humanity, yaitu melalui kajian terhadap fenomena alam semesta. Banyak kenampakan alam yang mengangumkan dan menunjukan kebesaran sang pencipta.
  2. Inner experience of humanity, yaitu melalui kesadaran batiniyyah.
  3. Spiritual experience of humanity, yaitu didasarkan pada wahyu yang diturunkan oleh Tuhan melalui utusannya.

Agama sangat dibutuhkan oleh manusia, karena melalui agama:

  1. Mengarahkan, membimbing dan menunjukan kepada manusia tentang sumber yang dapat dijadkan pegangan dalam meghadapi problema kehidupan serta cara yang harus dilakukan untuk menyelesaikannya.
  2. Mendidik manusia agar mempunyai sikap dan pendirian tertentu, jelas, positif dan tepat.
  3. Mendidik manusia berani menegakan kebenaran.
  4. Memberikan tuntunan dan ajaran yang dibutuhkan manusia dan menumbuhkan sifat – sifat utama seperti rendah hati, sopan santun dsb dan melarang sikap sebaliknya.

 B.  Arti dan Ruang Lingkup Agama Islam

Islam berasal dari kata as lama yang merupakan turunan dari kata assalmu, assalamu, assalamatu yang artinya bersih dan selamat dari kecatatan lahir batin. Dari asal kata ini, dapat diartikan bahwa dalam islam terkandung makna suci, bersih, tanpa cacat atau sempurna. Kata islam juga dapat diambil dari kata assilmu dan assalmu yang berarti perdamaian dan keamanan. Dari asal kata ini islam mengandung makna perdamaian dan keselamatan, karena itu kata assalamu alaikum merupakan kata kecintaan seorang muslim pada orang lain, karena itu islam selalu menebar doa dan kedamaian kepada sesama. Dari kata assalamu, assalmu dan assilmu yang berarti menyerahkan diri, tunduk dan taat. Semua asal kata diatas berasal dari tiga huruf, yaitu sin, lam dan mim (di baca salima) yang artinya sejahtera, tidak tercela dan selamat.

Pengertian islam secara terminologis diungkapkan Ahmad Abdullah Almasdoosi (1962), bahwa islam adalah kaidah hidup yang diturunkan kepada manusia sejak manusia digelarkan di muka bumi dan terbina dalam bentuknya yang terakhir dan sempurna. Dalam Al – Quran yang suci yang diwahyukan Tuhan kepada nabinya yang terakhir, yakni nabi Muhammad bin Abdullah, satu kaidah hidup yang memuat tuntunan yang jelas dan lengkap mengenai aspek hidup manusia, baik spiritual maupun material. Dari definisi itu dapat disimpulkan bahwa islam adalah agama yang diturunkan Allah SWT kepada manusia melalui rasul – rasulnya, yang berisi hukum – hukum yang mengatur hubungan mansia dengan allah, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam semesta.

Secara garis besar ruang lingkup agama islam menyangkut tiga hal pokok yaitu :

  1. Aspek keyakinan yang disebut akidah, yaitu aspek credial atau keimanan terhadap Allah SWT dan semua yang difirmankannya untuk diyakini.
  2. Aspek norma atau hukum yang disebut syariah, yaitu aturan –aturan Allah SWT yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, sesama manusa dan dengan alam semesta.
  3. Aspek perilaku yang disebut akhlak, yaitu sikap – sikap atau perilaku yang nampak dari pelaksanaan akidah dan syariah.

Ketiga aspek tersebut tidaklah berdiri – sendiri, tetapi menyatu membentuk kepribadian yang utuh pada diri seorang muslim. Hal ini diungkapkan secara tegas dalam firman Allah SWT.

di jelaskan dalam surat al baqarah ayat 208 : “Wahai orang – orang yang beriman masuklah kamu dalam islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah – langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata”. ( Al – Baqaarah, 2:208)

Antara akidah, syariah, dan akhlaq masing – masing saling berkaitan. Aqidah atau iman merupakan keyakinan yang mendorong seorang mslim untuk melaksanakan syariah. Apabila syariah telah dilaksanakan berdasarkan aqidah akan lahir akhlak. Oleh karena itu, iman tidak hanya di dalam hati, tetapi ditampilkan dalam bentuk perbuatan. Dapat disimpulkan bahwa aqidah merupakan landasan bagi tegak berdirinya syariah dan akhlak.

Selain agama Islam, adapula agama Zoroaster, yang diambil dari nama pendirinya Zoroaster. Agama Budha (Budhisme) berasal dari nama “ Sidharta Gautama Budha” , Budha merupakan gelar bagi Sidharta yang dianggap memperoleh penerangan agung. Agama Yahudi (Judaisme) suatu agama yang dianut oleh orang – orang Yahudi (Jews), asal nama dari Negara Juda (Judea). Agama Hindu merupakan kumpulan dari macam – macam agama dan tanggapan tentang dunia dari orang – orang India. Agama Kristen merupakan agama yang berasal dari pengajarnya atau yang dipujanya “Jesus Crist” dan pengikut – pengikut Kristus disebut pula orang – orang Kristen.

C.  Jenis – Jenis Agama

Dikaitkan dengan arti agama diatas maka sesungguhnya pengertian agama menjadi sangat luas. Tiada seorang pun yang tidak menganut suatu ajaran agama. Boleh jadi seseorang menyatakan dirinya tidak beragama namun pada hakikatnya ia telah membuat ajaran tertentu yang menjadi agamanya.

Berdasarkan sumbernya agama dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :

  1. Agama wahyu: agama yang diterima oleh manusia dari allah sang pencipta melalui malaikat Jibril dan disampaikan serta disebarkan oleh Rasul-Nya kepada umat manusia. Wahyu – wahyu dilestarikan melalui Al – Kitab, suhuf ( lembaran – lembaran bertulis) atau ajaran lisan. Misalnya agama Yahudi, Nasrani dan Islam.
  2. Agama bukan wahyu: agama yang bersandar semata – mata kepada ajaran manusia yang dianggap memiliki pengetahuan tentang kehidupan dalam berbagai aspek secara mendalam.Agama bukan wahyu muncul dari perkembangan budaya suatu masyarakat. Misalnya agama Hindu di India, Shinto di Jepang, agama budha yang berpangkal pada Sidharta Gautama dan confuesianisme yang berpangkal pada ajaran Kong Hu Chu, dan Zoroaster

Berdasarkan misi penyebarannya agama dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

  1. Agama misionari adalah agama yang menuntut penganutnya untuk menyebarkan ajaran-ajarannya kepada manusia lainnya.
  2. Agama bukan misionari adalah agama yang tidak menuntut penganutnya untuk menyebarkan agamanya.

Secara fitriah manusia membutuhkan agama sebagai pegangan hidup, karena itu sejarah agama sama panjangnya dengan sejarah manusia. Karena itu sejarah mencatat aneka macam agama yang dianut oleh manusia sejak dahulu hingga sekarang ini. Baik agama yang berasal dari olah pikir manusia (agama ardi atau agama budaya) maupun agama yang diturunkan oleh wahyu (agama samawi) yang diterima rasul – rasul Tuhan.

Agama budaya umumnya bersifat politeistik atau mempercayai beberapa Tuhan, sedangkan agama wahyu bersifat monoteistik atau meyakini satu Tuhan.

Agama-agama budaya umumnya menggunakan nama pencetusnya sebagai nama agamanya, sedangkan agama wahyu penamaannya berdasarkan wahyu pula, tidak menggunakan nama rasul yang menerimanya.

Agama –agama besar yang dianut umat manusia di dunia antara lain Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha dan Islam yang dikelompokan ke dalam agama samawi dan sebagian para ahli mengelompokan agama Yahudi dan Nasrani tidak lagi dipandang agama samawi murni, karena mereka berpendapat bahwa kitab suci kedua gama tersebut telah mengalami perubahan, yaitu terdapatnya intervensi pemikiran menusia ke dalam kitab suci mereka (Charles Adam dalam Daud Ali:73). Dari sudut ketuhananpun kedua agama tersebut tidak lagi menganut monoteisme mutlak, misalnya menurut agama Nasrani, Tuhan yang satu terdiri dari tiga oknum, yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Ruhul Kudus. Sedangkan konsep ketuhanan dalam Islam adalah tauhid atau monoteisme mutlak, dimana Tuhan itu Esa yang tidak terbagi – bagi. Jadi dapat dikatakan bahwa agama Islam adalah agama samawi murni. Agama Hindu dan Budha dikeleompokan kedalam agama budaya yang konsep ketuhanannya politeistik.

Agama – agama selain Islam umumnya bersifat local untuk masyarakat tertentu, misalnya Yahudi untuk Bani Israil saja. Sedangkan agama Islam ditunjukan untuk seluruh manusiasepanjang zaman.

Agama Islam adalah agama wahyu yang berdasarkan tauhid, berbeda dengan monoteisme. Tauhid atau keesaan Tuhan diketahui manusia berdasarkan kabar dari Tuhan sendirimelalui firman yang disampaikan kepada Rasul-Nya. Sedangkan monoteisme lahir dari perkembangan kepercayaan manusia terhadap Tuhan setelah melalui proses panjang pengalaman manusia dari dinamisme, animisme,politeisme dan akhirnya monoteisme.

 D.  Risalah Islam

Agama Islam sesungguhnya adalah agama Allah SWT yang dulu dan sekarang. Menurut teori evolusionisme Darwin menganggap manusia sebagai hasil dari evolusi hayat yang bertolak dari makhluk bersel satu, maka Islam dalam rangka evolusi agama Allah berakhir dan paripurna dalam pengakuan tugas Nabi Muhammad SAW. Beliaulah penutup Nabi dan Rasul, karenanya membawa konsekuensi tugas universal dan abadi untuk seluruh manusia hingga ke akhir zaman. Allah SWT menggariskan tujuan risalah dalam Alquran yang artinya tiada kami utus engkau melainkan rahmat bagi sekalian alam.

Tugas Nabi Muhammad ialah pembawa rahmat bagi seluruh umat, maka itu pulalah risalah agama yang dibawanya. Tegasnya risalah Islam ialah mendatangkan rahmat bagi seluruh alam. Jadi kehadiran Islam di alam adalah membawa keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan manusia lahir dan batin. Baik secara perseorangan maupun secara bersama – sama dalam masyarakat.

Kesempurnaan tujuan risalah Islam barulah terlaksana apabila pemeluknya dan manusia lainnya yang bertetangga dengan Islam merasakan nikmatnya Islam. Jadi merealisasikan risalah Islam ialah kita mewujudkan Islam menjadi syurga bagi manusia di dunia. Kebenaran risalah Islam sebagai rahmat bagi manusia, terletak pada kesempurnaan Islamsendiri. Islam adalah dalam kesatuan ajaran, ajaran yang satu dan lainnya mempunyai nisbat dan hubungan yang saling berkaitan. Maka islam dapat kita lihat dalam tiga segi, yaitu aqidah, syariah dan nizam.

Dalam suatu tinjauan, Islam adalah suatu aqidah atau keyakinan (kepercayaan). Nilai – nilai yang diajarkan kebenarannya mutlak karena bersumber dari yang Maha mutlak. Maka segala yang diizinkannya adalah suatu yang haq (benar), sedang segala yang ditentangmya adalah batil.

Apabila Islam ditinjau dari segi lain, Islam adalah suatu syari’ah artinya sebagai suatu hukum dan perundang – undangan.  Al- Qur’an dan sunnah Rasullulah adalah dua sumber asasi dari ajaran – ajaran Islam dan sekaligus menjadi sumber dan hukum perundang – undangan Islam. Yang mengatur kehidupan manusia baik yang berhubungan dengan Tuhan maupun yang berhubungan antar manusia atau dengan alam.

Islam adalah suatau nizam, yaitu cara hidup atau way of life. Islam sebagai suatu sistem dapat kita lihat sebagai sistem iman, ibadah dan sistem akhlak.

Islam adalah agama keseimbangan, maka ajaran – ajaran Islam hendaknya diterapkan secara seimbang, seimbang yang vertical dan horizontal. Dalam Al-Qur’an penuh dengan ayat – ayat yang mengajarkan tentang keseimbangan. Ayat – ayat Al-Qur’an menyebut akhirat selalu didahului dengan dunia dan kata iman selalu diikuti kata amal shaleh.

Agama yang diturunkan Allah SWT di muka bumi sejak nabi Adam sampai nabi Muhammad SAW, adalah agama islam sebagaimana diungkapkan oleh ( Q.S. ali Imran, 3:19).

Artinya : “sesungguhnya agama disisi Allah adalah agama islam” .

Agama Islam ini telah merangkum semua bentuk kemaslahatan yang diajarkan oleh agama-agama sebelumnya. Agama Islamini lebih istimewa dibandingkan agama-agama terdahulu karena Islam adalah ajaran yang bisa diterapkan di setiap masa, di setiap tempat dan di masyarakat manapun. Allah SWT berfirman kepada Rasulullah:

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِناً

Artinya: “Dan Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab dengan benar sebagai pembenar kitab-kitab yang terdahulu serta batu ujian atasnya.” (QS. Al Maa’idah: 48)

Maksud dari pernyataan Islam itu cocok diterapkan di setiap masa, tempat dan masyarakat adalah dengan berpegang teguh dengannya tidak akan pernah bertentangan dengan kebaikan umat tersebut di masa kapan pun dan di tempat manapun. Bahkan dengan Islamlah keadaan umat itu akan menjadi baik. Akan tetapi bukanlah yang dimaksud dengan pernyataan Islam itu cocok bagi setiap masa, tempat dan masyarakat adalah Islam tunduk kepada kemauan setiap masa, tempat dan masyarakat.

Agama Islam adalah agama yang benar. Sebuah agama yang telah mendapatkan jaminan pertolongan dan kemenangan dari Allah SWT bagi siapa saja yang berpegang teguh dengannya. Allah swt berfirman:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Artinya: “Dia lah Zat yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa Petunjuk dan Agama yang benar untuk dimenangkan di atas seluruh agama-agama yang ada, meskipun orang-orang musyrik tidak menyukainya.” (QS. Ash Shaff: 9)

Allah SWT berfirman,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Artinya: “Allah benar-benar telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman serta beramal salih diantara kalian untuk menjadikan mereka berkuasa di atas muka bumi sebagaimana orang-orang sebelum mereka telah dijadikan berkuasa di atasnya. Dan Allah pasti akan meneguhkan bagi mereka agama mereka, sebuah agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka peluk. Dan Allah pasti akan menggantikan rasa takut yang sebelumnya menghinggapi mereka dengan rasa tenteram, mereka menyembah-Ku dan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun. Dan barangsiapa yang ingkar sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nuur: 55)

Secara umum dapat dikatakan bahwasanya Islam memerintahkan semua akhlak yang mulia dan melarang akhlak yang rendah dan hina. Islam memerintahkan segala macam amal shaleh dan melarang segala amal yang jelek. Allah SWT berfirman,

إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat adil, ihsan dan memberikan nafkah kepada sanak kerabat. Dan Allah melarang semua bentuk perbuatan keji dan mungkar, serta tindakan melanggar batas. Allah mengingatkan kalian agar kalian mau mengambil pelajaran.” (QS. An Nahl: 90).

Umat Islam dilarang menjadi umat pengekor, tetapi sebagai pengendali. Islam tidak condong ke barat dan ke timur, melainkan Islam hadir di tengah – tengah mengajak seluruh benua, ras, dan bangsa untuk berkiblat kepadanya. Islamlah yang harus memimpin jalannya sejarah menuju kepada hidup dan kehidupan yang bahagia dalam rangka masyarakat yang sejahtera dan bahagia di bawah naungan Allah SWT. Betapa tinggi fungsi umat Islam di tengah – tengah kancah kehidupan manusia. Allah SWT berfirman yang artinya: kamu adalah umat yang paling baik, yang ditempatkan ke tengah – tengah manusia, untuk memimpin kepada kebaikan, mencegah kemungkaran dan percaya penuh kepada Allah.

E.  Misi Kehadiran Islam

Agama Islam memiliki misi, antara lain:

  1. Mengajak manusia untuk tunduk dan patuh terhadap aturan – aturan yang ditetapkan Allah SWT.
  2. Membimbing manusia menemukan kedamaina lahir dan batin dan menciptakan kedamaian hidup bersama.
  3. Memberikan  jaminan untuk mendapatkan keselamatan dan terbebas dari bencana hidup, baik di dunia dan di akherat.

F.   Metode mempelajari Islam

Memahaami islam secara menyeluruh adalah hal yang sangat penting, walaupun tidak secara mendetail. Begitulah cara paling minimal untuk memahami agama, agar menjadi pemeluk agama yang mantap dan untuk menumbuhkan sikap hormat bagi pemeluk agama lain. Di samping itu untuk menghindari kesalahpahaman yang mana memungkinkan timbulnya pandangan dan sikap negative terhadap islam. Maka untuk memahami islam secara benar adalah dengan cara sebagai berikut :

  1. Islam harus di pelajari dari sumbernya yang asli, yaitu Al – Quran dan sunnah Rsullulah. Kekeliruan memahami islam karena orang yang hanya mengenalnya dari sebagian ulama – ulama dan pemeluk – pemeluknya yang telah jauh dari ajaran Al – Quran dan sunnah atau pengenalan dari sumber kitab – kitab fiqih dan tasawuf yang telah tua dan ketinggalan zaman dan kebanyakan bercampur dengan bidah dan khufarat.
  2. Islam harus dipelajari secara integral tidak secara parsial, artinya islam dipelajari secara menyeluruh sebagai satu kesatuan yang bulat tidak hanya sebagian saja.
  3. Islam dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar. Karena pada umumnya mereka memahami Islam secara baik, pemahaman yang lahir dari perpaduan ilmu yang dalam terhadap Alquran dan Sunnah Rasullulah dengan pengalaman yang indah dari praktek ibadah yang dilakukan setiap hari.

Daftar Pustaka

Departemen Agama RI. 2002. Pendidikan agama Islam Pada Perguruan Tinggi Umum. Jakarta: Departemen Agama RI.

Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Islam[ 8 oktober 2012].

Razak, Nasruddin. 1977. Islam. Bandung: Alma’arif.

Zuhairini. 2004. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

Model Pembelajaran Assure

A.      PENGERTIAN MODEL ASSURE

Menurut Afandi dan Badarudin, (2011:22) “Model ASSURE merupakan suatu model yang merupakan sebuah formulasi untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) atau disebut juga model berorientasi kelas”.  Model ini  adalah salah satu petunjuk dan perencanaan yang bisa membantu untuk bagaimana cara merencanakan, mengidentifikasi, menentukan tujuan, memilih metode dan bahan, serta evaluasi.

Model assure ini merupakan rujukan bagi pendidik dalam membelajarkan peserta didik dalam pembelajaran yang direncanakan dan disusun secara sistematis dengan mengintegrasikan teknologi dan media sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif dan  bermakna bagi peserta didik.

Pembelajaran dengan menggunakan Model ASSURE mempunyai beberapa tahapan yang dapat membantu terwujudnya pembelajaran yang efektif dan bermakan bagi peserta didik.

 B.     TAHAPAN TAHAPAN MODEL ASSURE

Menurut Heinich et al (2005)  ( dalam Afandi dan Badarudin, 2011: 22-23) model ini singkat, menurut model ini terdapat beberapa langkah dalam penyusunan sebuah bahan ajar, yaitu

1.       ANALYZE LEARNER  (Analisis Pelajar)

Tujuan utama dalam menganalisa termasuk pendidik dapat menemui kebutuhan belajar siswa yang penting sehingga mereka mampu mendapatkan tingkatan pengetahuan dalam pembelajaran secara maksimal. Analisis pelajar meliputi tiga faktor kunci dari diri pelajar yang meliputi :

a)        General Characteristics (Karakteristik Umum)

Karakteristik umum siswa dapat ditemukan melalui variable yang konstan, seperti, jenis kelamin, umur, tingkat perkembangan, budaya dan faktor sosial ekonomi serta etnik. Semua variabel konstan tersebut, menjadi patokan dalam merumuskan strategi dan media yang tepat dalam menyampaikan bahan pelajaran. contoh: Jika pelajar kurang tertarik terhadap materi yang disajikan, diatasi dengan menggunakan media yang memiliki tingkat stimuli yang tinggi, seperti: penggunaan animasi, video, permainan simulasi, dll.

b)         Specific Entry Competencies ( Mendiagnosis kemampuan awal pembelajar)

Penelitian yang terbaru menunjukkan bahwa pengetahuan awal siswa merupakan sebuah subyek patokan yang berpengaruh dalam bagaimana dan apa yang dapat mereka pelajari lebih banyak sesuai dengan perkembangan psikologi siswa (Smaldino, 2011). Hal ini akan memudahkan dalam merancang suatu pembelajaran agar penyamapain materi pelajaran dapat diserap dengan optimal oleh peserta didik sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

c)          Learning Style (Gaya Belajar)

Gaya belajar yang dimiliki setiap pelajar berbeda-beda dan mengantarkan peserta didik dalam pemaknaan pengetahuan termasuk di dalamnya interaksi dengan dan merespon dengan emosi ketertarikan terhadap pembelajaran. Terdapat tiga macam gaya belajar yang dimiliki peserta didik, yaitu: 

1. Gaya belajar visual (melihat) yaitu dengan lebih banyak melihat seperti membaca

2. Gaya belajar audio (mendengarkan), yaitu belajar akan lebih bermakna oleh peserta didik jika pelajarannya tersebut didengarkan dengan serius,

3. Gaya belajar kinestetik (melakukan), yaitu pelajaran akan lebih mudah dipahami oleh peserta didik jika dia sudah mempraktekkan sendiri.

 2.  STATES OBJECTIVIES  (Menyatakan Tujuan)

Menyatakan tujuan adalah tahapan ketika menentukan tujuan pembelajaran yang baik berdasarkan buku atau kurikulum. Tujuan pembelajaran akan menginformasikan apakah yang sudah dipelajari anak dari pengajaran yang dijalankan. Menyatakan tujuan harus difokuskan kepada pengetahuan, kemahiran, dan sikap yang baru untuk dipelajari. Dalam merumuskan tujuan  pembelajaran juga  perlu memperhatikan dasar dari strategi, media dan pemilihan media yang tepat. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses perumusan tujuan ialah :

  • Tentukan ABCD

Setiap rumusan tujuan pembelajaran ini haruslah lengkap. Kejelasan dan kelengkapan ini sangat membantu dalam menentukan model belajar, pemanfaatan media dan sumber belajar berikut asesmen dalam KBM.  Rumusan baku ABCD tadi dijabarkan sebagai berikut:

  • A = audience

Pelajar atau peserta didik dengan segala karakterisktiknya. Siapa pun peserta didik, apa pun latar belakangnya, jenjang belajarnya, serta kemampuan prasyaratnya sebaiknya jelas dan rinci.

  • B = behavior

Perilaku belajar yang dikembangkan dalam pembelajaran. Perilaku belajar mewakili kompetensi, tercermin dalam penggunaan kata kerja. Kata kerja yang digunakan biasanya kata kerja yang terukur dan dapat diamati.

  • C = conditions

Situasi kondisi atau lingkungan yang memungkinkan bagi pelajar dapat belajar dengan baik. Penggunaan media dan metode serta sumber belajar menjadi bagian dari kondisi belajar ini. Kondisi ini sebenarnya menunjuk pada istilah strategi pembelajaran tertentu yang diterapkan selama proses belajar mengajar berlangsung.

  • D = degree

Persyaratan khusus atau kriteria yang dirumuskan sebagai dibaku sebagai bukti bahwa pencapaian tujuan pembelajaran dan proses belajar berhasil. Kriteria ini dapat dinyatakan dalam presentase benar (%), menggunakan kata-kata seperti tepat/benar, waktu yang harus dipenuhi, kelengkapan persyaratan yang dianggap dapat mengukur pencapaian kompetensi. Ada empat kategori pembelajaran.

1. Domain Kognitif

2. Domain Afektif

3. Motor Domain Skill

4. Domain Interpersonal

3.   SELECT METHODS, MEDIA, AND MATERIAL (Memilih metode, media dan bahan )

Dalam langkah ini, pendidik akan membangun jembatan anatara peserta didik dan tujuan rencana sistematis untuk menggunakan media dan teknologi.Metode, media dan materi harus dipilih secara sistematis. Setelah mengetahui gaya belajar peserta didik dan memiliki gagasan yang jelas tentang apa yang akan di sampaikan,maka harus dilakukan pemilihan:

  • Metode pembelajaran yang di gunakan harus tepat untuk memenuhi tujuan bagi para peserta didik, yang lebih unggul daripada yang lain atau yang memberikan semua kebutuhan dalam belajar bersama, seperti kerja kelompok.
  • Media yang cocok untuk dipadukan sama dengan metode pembelajaran yang dipilih, tujuan, dan peserta didik. Media bisa berupa teks, gambar, video, audio, dan multimedia komputer. Penyampaian dapat disajikan dengan mencari materi yang tersedia untuk mendukung penyampaian. Materi harus sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
  • Materi yang disediakan untuk peserta didik sesuai dengan yang dibutuhkan dalam menguasai tujuan. Materi bisa juga dimodifikasi, peserta didik bisa merancang dan membuat materi sendiri. Materi dapat berupa program perangkat lunak khusus, musik, kaset video, gambar, dan peralatan seperti overhead prejector, komputer, printer, scanner, TV dll. Materi mungkin perlu disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik atau tempat pembelajaran dan peralatan.
  1. 4.  UTILIZE MEDIA, AND MATERIALS (Memanfaatkan Media dan Materi)

Langkah keempat dalam model pembelajaran ASSURE adalah memanfaatkan penggunaan media dan materi oleh peserta didik dan pendidik. Menjelaskan bagaimana pendidik akan menerapkan media dan materi. Untuk setiap jenis media dan materi yang tercantum di bawah dipilih, dimodifikasi, dan di desain. Pendidik harus menjelaskan secara rinci bagaimana pendidik akan menerapkannya ke dalam pelajaran, pendidik juga membantu peserta didik. Dalam memanfaatkan materi ada beberapa langkah:

  • Preview materi

       Pendidik harus melihat dulu materi sebelum mennyampaikannya dalam kelas dan selama proses pembelajaran pendidik harus menentukan materi yang tepat untuk audiens dan memperhatikan tujuannya.

  • Siapkan bahan

       Pendidik harus mengumpulkan semua materi dan media yang dibutuhkan pendidik dan peserta didik. Pendidik harus menentukan urutan materi dan penggunaan media. Pendidik harus menggunakan media terlebih dahulu untuk memastikan keadaan media.

  • Siapkan lingkungan

       Pendidik harus mengatur fasilitas yang digunakan peserta didik dengan tepat dari materi dan media sesuai dengan lingkungan sekitar.

  • Peserta didik

       Memberitahukan peserta didik tentang tujuan pembelajaran. Pendidik menjelaskan bagaimana cara agar peserta didik dapat memperoleh informasi dan cara mengevaluasi materinya.

  • Memberikan pengalaman belajar

Di Dalam Mengajar dan belajar harus menjadi pengalaman Kelas, bukan suatu cobaan

5. REQUIRE LEARNER PARTICIPATION (Partisipasi Pelajar)

Sebelum pelajar dinilai secara formal, pelajar perlu dilibatkan dalam aktivitas pembelajaran seperti memecahkan masalah, simulasi, kuis atau presentasi. Dalam hal ini guru harus menyiapkan pengalaman pembelajaran bagi siswa. Jika materi berbasis guru, seharusnya guru lebih bersifat  professional. Jika berpusat pada siswa, guru harus berperan sebagai fasilitator, membantu siswa untuk mengeksplorasi materi, mendiskusikan isi materi, menyiapkan materi seperti fortopolio, atau mempresentasikan dengan teman sekelas mereka.

Belajar yang paling baik bagi siswa yaitu jika mereka secara aktif terlibat dalam pembelajaran. Siswa yang pasif lebih banyak memiliki permasalahan dalam belajar, karena guru hanya mencoba untuk memberikan stimulus, tanpa mempedulikan respon dari siswa. Apapun strategi pembelajarannya guru harus dapat menggabungkan strategi satu dengan yang lain, diantaranya strategi tanya-jawab, diskusi, kerja kelompok, dan strategi lainnya agar siswa aktif dalam pembelajarannya. Dengan demikian, seorang guru harus menjelaskan bagaimana cara agar setiap siswa belajar secara aktif.

6.    EVALUATE AND REVISE ( Penilaian dan Revisi)

Tahap keenam adalah mengevaluasi dan merevisi perencanaan pembelajaran serta pelaksanaannya. Evaluasi dan revisi dilakukan untuk melihat seberapa jauh teknologi, media dan materi yang kita pilih/gunakan dapat mencapai tujuan yang telah kita tetapkan sebelumnya. Dari hasil evaluasi akan diperoleh kesimpulan: apakah teknologi, media dan materi yang kita pilih sudah baik, atau harus diperbaiki lagi.

Berkaitan dengan evaluasi, evaluasi dilakukan sebelum, selama dan sesudah pembelajaran. Sebagai contoh, sebelum proses pembelajaran, karakteristik siswa diukur guna memastikan apakah ada kesesuaian antara keterampilan yang dimiliki siswa dengan metode dan bahan ajar yang akan digunakan. Selama dalam proses pembelajaran, evaluasi bisa dilakukan menggunakan umpan balik, evaluasi diri atau kuis pendek siswa. Evaluasi yang dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung memiliki tujuan diagnosa yang didesain untuk mendeteksi dan mengoreksi masalah pembelajaran dan kesulitan-kesulitan yang ada. Sedangkan sesudah pembelajaran, evaluasi dilakukan untuk mengetahui pencapaian siswa. Evaluasi bukanlah tujuan akhir pembelajaran, namun sebagai titik awal menuju siklus berikutnya.

Langkah terakhir dalam siklus pembelajaran ini adalah melihat kembali dan mengamati hasil data evaluasi yang telah terkumpul. Pengajar harus melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan serta masing-masing komponennya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Afandi, Muhammad dan Badarudin. 2011. Perencanaan Pembelajaran. Bandung : Alfabeta.

Amanah. 2011. Model Pembelajaran ASSURE. [online] tersedia di:http://amanahtp.wordpress.com/2011/11/28/model-pembelajaran-assure-menciptakan-pengalaman-belajar/

Rais, Rahma. 2012. Rancangan Pembelajran Model ASSURE. [online] tersedia:http://tentangmediapendidikan.blogspot.com/2012/06/rancangan-pembelajaran-model-assure.html

Ranto. 2011. Model ASSURE merencanakan Pembelajaran Dengan Mengintegrasikan teknologi dan Media. [online] tersedia: http://ranto.staff.fkip.uns.ac.id/2011/12/10/model-assure-merencanakan-pembelajaran-dengan-mengintegrasikan-teknologi-dan-media/

Smaldino, Sharon. Lowter, Deborah. Russel, James D. 2011. Teknologi  Pembelajaran dan Media untuk Belajar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Ulfiarahmi. 2012. Rancangan Pembelajaran dengan Model ASSURE. [online] tersedia:http://tepenr06.wordpress.com/2012/05/24/rancangan-pembelajaran-dengan-model-assure/

Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin

 DEMOKRASI LIBERAL

 

a.    Masa Demokrasi Liberal (Parlementer)

Ketidakstabilan Pernerintah akibat persaingan antar Partai-Partai Politik. Setelah bentuk RIS dibubarkan pada tanggal 15 Agustus 1950 rnaka bentuk negara kita kernbali kedalam bentuk negara kesatuan Republik Indonesia dengan menggunakan UUDS 1950. Berdasarkan UUDS 1950 sistem kabinet/demokrasi yang dianut adalah demokrasi atau kabinet parlernenter (liberal). Dalam kabinet parlementer dipimpin oleh seorang perdana menteri yang bertanggungjawab kepada DPR bukan kepada presiden.

Sistim demokrasi liberal ditandai dengan sering bergantinya kabinet dalam arti kabinet yang tidak berkuasa tidak pernah berumur panjang. Kabinet pada rnasa demokrasi lib­eral adalah

No

Nama kabinet

Pembentukan

Pembubaran

1.

Kabinet Moh. Natsir

6 September 1950

21 Maret 1951

2.

Kabinet Soekiman

26 April 1951

Februari 1952

3.

Kabinet Mopo

30 Maret 1952

2 Juni 1953

4.

Kabinet Ali Wongso

1 Agustus 1953

24 Juh 1955

5.

Kabinet Burhanudin

12 Agustus 1955

3 Maret 1956

6.

Kabinet Ali II

24 Maret 1956

± tahun 1957

Dari semua kabinet hanya berumur ± 1 tahunan, kabinet itu yang berhasil mencapai prestasi adalah:

1. Kabinet Ali Sastroamijoyo I berhasil menyelenggarakan KAA tanggal 18 – 24 April 1955 di Bandung.

2.  Kabinet Burlianudin Harahap berhasil menyelenggarakan pemilu 1 yang  dilaksanakan dalam 2 tahap yaitu :

•   Tanggal 22 September 1955 untuk memilih anggota DPR.

  • Tanggal 15 Deasember 1955 memilih Badan Konstituante (Badan Pembuat UUD)

Pada masa demokrasi liberal partai politik tumbuh dengan adanya perbedaan tujuan dari partai-partai politik M1 banyak menimbulkan kericuhan dibidang sosial politik yang secara otomatis dapat mengganggu kelancaran penierintahan Indonesia.

b.   Sistem Liberal dan Pemilu I

Pemilu yang pertama terjadi pada tahun 1955, pemilu tersebut diselenggarakan dalam dua tahap yaitu:

1. Tanggal 29 September 1955 untuk memilih anggota DPR.

2. Tanggal 15 Desember 1955 untuk memilih konstituante.

Kursi yang diperebutkan pada pemilu I adalah 272 kursi DPR dan 542 kursi Dewar Konstituante pada tanggal 20 Maret 1956, pelantikan konstituante pada tanggal 10 November 1956. DPR terbagi dalam beberapa fraksi yaitu:

1.

Fraksi Masyumi

10. Fraksi Pembangunan

2.

Fraksi PNI

11. Fraksi Perorangan AKUI

3.

Fraksi NU

12. Fraksi PSI

4.

Fraksi PKI

13. Fraksi Gerakan Pembela Pancasila

5.

Fraksi Nasional Progresif

14. Fraksi Persatuan Pegawai Polisi RI

6.

Fraksi Pendukung Proklamasi

15. Fraksi PPTI

7.

Fraksi PSI1

16. Fraksi Persi

8.

Fraksi Parkindo

17. Fraksi PIR Huzairin

9.

Fraksi Katolik

18. Fraksi Persatuan

 

Perolehan suara dalam Pemilu I ternyata ada empat partai besar yang memperoleh suara terbanyak. Keempat suara itu adalah Masyumi, PNI, NU, PKI. Sesudah pemilu banyak partai-partai terutama partai besar selalu bertengkar. Pertengkaran ini terjadi karena masing-masing partai ingin memaksakan kehendaknya.

Konstituante membentuk UUD, terdapat perbedaan pendapat, dengan adanya perbedaan pendapat dan perbedaan keinginan, menyebabkan sidang-sidang konstituante selalu mengalarni jalan buntu, yang akhirnya dewan konstituante tidak pernah menghasilkan UUD pengganti UUDS, karena selalu mengalami kegagalan, maka dewan konstituante akhirnya dibubarkan melalui Dekrit Presiden.

c. Konferensi Asia Afrika

 

Pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia mendapatkan bantuan dari India, Pa­kistan, Mesir, Birma dan masih banyak negara non-blok yang ada di Asia Afrika. Kemudian India, Pakistan, Sailand dan Birma memelopori Konferensi Asia Afrika di Bandung dengan tujuan menciptakan kerjasama Asia Afrika, serta membantu negara-negara di Asia Afrika yang belum merdeka.

Awal dari konferensi Asia Afrika adalah Konferensi Kolombo di Srilangka pada muzi 1954 bulan April yang dihadiri oleh:     

1. Indonesia, yang diwakili oleh Ali Sastroamidjoyo

2. Pakistan, yang diwakili oleh Moh. Ali

3. Srilangka, yang diwakili oleh Sir John Kotewala

4. India, yang diwakili oleh Jawaharlal Nehru.

5. Birma, yang diwakili oleh Unu

Konferensi kolombo sebagai persiapan konferensi Asia Afrika I lanjutkan di Bogor, pada bulan Desember 1954. konferensi di Bogor ini dikenal dengan nama “konferensi Panca Negara” yang menjadi pokok pembicaraannya adalah:

1. Menetapkan acara konferensi Asia Afrika

2. Menetapkan negara mana yang akan di undang

3. Menetapkan waktu penyelenggaraan konferensi Asia Afrika

4. Merumuskan tujuan konferensi Asia afrika.

Sedangkan tujuan dari konferensi Asia Afrika adalah

1. Meningkatkan muhibah dan kerjasama diantara bangsa-bangsa Asia Afrika

2. Memprtimbangkan masalah-masalah sosial, ekonomi clan kebudayaan dar hubungan antar negara yang diajukan

3. Mernpertimbangkan masalah-masalah yang menjadi perhatian khusus rakyat-­rakyat Asia Afrika antara lain persoalan mengenai kedaulatan nasional serta mengenai realisme dan kolonialisme

4. Menilik kedudukan Asia dan Afrika serta rakyat mereka di dunia masa kini dan sumbangan yang dapat mereka berikan untuk meningkatkan perdamaian dan kerjasama dunia.

Pada tanggal 18 April 1955 di bandung diselenggarakan konferensi asia Afrika sampai tanggal 26 April 1955 dihadiri oleh 29 negara. Negara-negara yang hadir pada konferensi Asia Afrika di Bandung adalah negara:

1. Afganistan                11. Saudi Arabia           21. Muangthai

2. Birma                         12. Sudan                      22. Mesir

3. Jepang                       13. Turki                       23. Nepal

4. Ethiopia                    14. Viaetnam Selatan    24. Pakistan

5. Filiphina                    15. Yordania                 25. RRC

6. Ghana                       16. Kamboja                 26. Srilangka

7. India                          17. Laos                        27. Suriah

8. Indonesia                  18. Libanon                   28. Vietnam Utara

9. Irak                            19. Liberia                     29. Yaman

10. Iran                         20. Libya

Konferensi Asia Afrika menghasilkan berbagai keputusan penting yang dituangkan dalam suatu komunikasi bersama. Disamping itu telah pula disetujui prinsip-prinsip hubungan internasional dalam rangka memelihara dan memajukan perdamaian dunia, prinsip-prinsip tersebut dikenal dengan nama “Dasasila Bandung”.

Dasasila Bandung adalah sebagai berikut:

1) Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat dalam piagam PBB.

2) Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa.

3) Mengakui persamaan semua ras dan persamaan semua bangsa baik besar maupun kecil.

4) Tidak melakukan intervensi atau campur tangan masalah dalam negeri negara lain.

5) Menghormati hak-hak tiap bangsa untuk mempertahankan diri sendin secara sendirian atau acara kolektif, yang sesuai dengan piagam PBB.

6) Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama.

7) Menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban internasional.

Aspirasi bangsa Indonesia tentang keinginannya untuk berusaha ikut melaksanakan perdamaian dunia tercantum pada preambul Undang-Undang Dasar 1945, disana tercantum “ikut melaksanakan ketertiban dunia berclasarkan kemerdekaan, perdamaian clan keadilan sosial” im merupakan dasar somber bagi Indonesia untuk melaksanakan politik luar negerinya. Dengan keyakinan itu menjadi pegangan bangsa Indonesia dalam mencapai perdamaian dunia, Indonesia memilih masuk PBB claripacla mengikuti blok barat maupun blok timer clan tetap pada pendiriannya sebagai negara non blok (non aliance).

d. Masalah-masalah Angkatan Perang dan Menanggulanginya Gangguan

Keamanan Dalam Negeri

Gangguan keamanan dalam negeri dimaksudkan adalah hal-hal atau peristiwa yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan maksud. tertentu yang akibatnya dapat menghambat, menantang dan mengancam keselamatan bangsa dalam usahanya mencapai tujuan negara.

Pemberontakan —pemberontakan dalam  negeri :

1. DI/TII (Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia) tahun 1949 — 1962

Gerakan DI mempunyai tekanan makna politik yaitu keinginan mempengaruhi orang lain mengikuti kehendaknya, sedangkan TII menggambarkan masalah tentara. Jika digabung DI/TII menunjukkan adanya kelompok yang ingin mendinkan negara Islam dengan menggunakan tentara sebagai inti kekuatannya.

Untuk melaksanakan keinginannya. maka DI/TII mengadakan pemberontakan­pemberontakan. Pemberontakan yang cukup lama dan menelan korban jiwa dan harta rakyat yang besar terjadi di Jawa Barat dibawah pimpinan S.M.Kartosuwiryo. Semula Kartosuwiryo menentang keputusan perjanjian “Renville” sehingga ketika Siliwangi “hijrah” ke Jawa Tengah, ia menganggap bahwa Jawa Barat telah ditinggalkan oleh republik. Oleh sebab itu ia melanjutkan perlawanan terhadap Belanda sambil bersikap menentang republik.

Sementara itu terjadi pula pemberontakan DI/TII di Aceh dimulai dengan “Proklamasi” Daud Beureuh bahwa Aceh merupakan bagian negara Islam Indonesia dibawah Imam Kartosuwiryo pada tanggal 20 September 1953. Daud Beureuh pernah memegang jabatan Gubernur Militer daerah Istimewa Aceh sewaktu agresi militer pertama Belanda pada pertengahan tahun 1947. Sebagai Gubernur Militer ia berkuasa penuh atas pertahanan keamanan daerah Aceh dan menguasai seluruh aparat pemerintah, baik sipil maupun militer.

Penyelesaian terakhir pemberontakan Daud Beureuh ini dilakukan dengan suatu musyawarah kerukunan rakyat Aceh” pada bulan Desember 1962 atas prakarsa Iskandar Muda, Kolonel M. Jasin. Dengan kembalinya Daud Beureuh ke masyarakat, kearnanan rakyat Aceh sepenuhnya pulih kembali.

Untuk menumpas pemberontakan Kartosuwiryo itu pemerintah melancarkan operasi militer resminya dimulai pada tanggal 27 Desember 1945. karena campur tangan golongan politik, operasi beilalan lamban. Keadaan itu memungkinkan gerombolan Karto Suwiryo mengganas dengan leluasa, sehingga menimbulkan kerugian yang tidak sedikit bagi rakyat.

Pemerintah mulai bertindak tegas sejak mulai Oktober 1961 dengan keluarnya perintah presiden untuk menangkap Kartosuwiryo hidup atau mati dan menghancurkan gerombolannya. Untuk itu dibentuk Komando Operasi Baratayuda yang dipimpin oleh Kolonel Ibrahim Adjie. Dalam operasi ini digunakan pagar betis yang dilakukan oleh ABRI bersama rakayat, dengan tujuan memperkecil suang gerak gerombolan. Basis-basi DI dikepung, garis supplynya dipotong dalam daerah -%-ang lugs. Dalam operasi Siliwangi dibawah pimpinan Letnan Dua Suhanda, pada tanggal 4 Juni 1962 Kartosuwiryo berhasil ditangkap di gunung Geber daerah Majalaya. Sejak itu berakhirlah petualangan DI/TII.

2. pemberontakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) 1950

Di Bandung ada yang menamakan dirinya “Angkatan Perang Ratu Adil”. Mernberikan ultimatum kepada pemerintah RIS dan negara Pasundan supaya mereka. Mngakui sebagai tentara “Pasundan” dan menolak usaha-usaha untuk mernbubarkan negara boneka. Ultirnaturn itu tidak dihiraukan oleh pemerintah RIS.

Pada pagi hari tanggal 23 Januari 1950 gerombolan APRA melancarkan serangannya terhadap kota Bandung, gerombolan ini dipimpin oleh Kapten Raymond Westerling, yang pada bulan Desember 1946 telah memirnpin gerakan pembunuhan masal terhadap rakyat Sulawesi Selatan, dengan kekuatan pasukannya kurang lebih 800 orang terdiri dari bekas KNIL pelarian pasukan perang, barisan pengawal “Stootro epee” dan polisi Belanda, penyerangan dilakukan dengan menggunakan kendaraan lapis baja.

Peristiwa itu menimbulkan banyak korban, karena pasukan APRA secara membabi buta menembaki setiap TNI yang mereka temui baik yang bersenjata maupun yang tidak. Perlawanan hampir dapat dikatakan tidak ada oleh karena penyerbuan tersebut tidak terduga sarna sekali dan rnengingat kesatuan-kesatuan Siliwangi, beberapa saja rnemasuki kota Bandung setelah perdamaian tercapai sebagai hasil KMB. Ketika peristiwa ini terjadi, panglima Divisi Siliwangi, Kolonel Sodikin, sedang mengadakan peninjauan ke luar kota yaitu ke Subang bersama Gubernur Jawa Banat, Sewaka.

Untuk memperkuat per-tahanan kota Bandung, pemerintah RIS segera mengirimkan pasukannya dari Jawa Tengah dan Jawa Timur serta dari Jakarta. Operasi penumpasan dilakukan di daerah Pacet pada tanggal 24 Januari 1950, pasukan TNI berhasil menghancurkan sisa-sisa gerombolan APRA.

Westerling melarikan diri dari Bandung ke Jakarta lalu merencanakan suatu gerakan untuk menangkap semua menteri RIS yang sedang menghadiri sidang kabinet, dan membunuh mentri pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sekretaris Jendral kementrian pertahanan Mr. A.Budiardjo juga pejabat Kepala staf angkatan perang Kolonel T.B.Simatupang. tindakan Westerling mendapat bantuan dari salah seorang kabinet RIS yaitu Sultan Hamid Il yang kemudian dapat ditangkap, sedangkan Westerling melarikan diri ke luar negeri dengan pesawat Catalina Militer AL Belanda.

3. Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS)

Rentetan pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan oleh orang-orang Indo­nesia bekas KNIL dan pasukan baret hijau yang pro Belanda terjadi di Maluku. Di Ambon pada tanggal 25 April 1950 diumumkan berdirinya “RMS” yang menyatakan diri lepas dari negara Indonesia Timur (NIT) dan RIS, dibawah pimpinan Dr. Soumukil. bekas jaksa Agung negara Indonesia.

Pemerintah pusat berusaha untuk menyelesaikan peristiwa ini secara damai yaitu dengan mengirirnkan suatu misi yang diketuai oleh Dr. Leimena. Usaha ini tidak berhasil sehingga pemerintah memutuskan segera untuk menumpasnya dengan kekuatan senjata dibawah pimpinan Kolonel Kawilarang.

Pada tanggal 14 Juli 1950 pagi hari, pasukan APRIS/TNI mendarat di Laha, pulau Buru dengan dilindungi Korvet Patiunus. Kemudian pasukan bergerak ke pulau Seram. Sernentara itu, pasukan-pasukan APRIS yang lain mendarat dan dapat segera menguasai Tanibar, kepulauan Kei dan Aru.

APRIS mendapat perlawanan yang sengit dari RMS. Tetapi akhirnya Ambon yang, rnenjadl pusat RMS dapat direbut pada bulan November 1950. kemudian sisa­sisa pasukan RMS melarikan diri ke hutan-hutan dan sering melakukan pengacauan di Maluku.

Pada tanggal 2 Desember 1963 Dr. Soumukil, gembong “Republik Maluku Selatan (RMS)”, berhasil ditangkap di pulau Seram kemudian di adili di Jakarta oleh rnahkarnah militer luar biasa pada tanggal 21 April 1964 dan dijatuhi hukuman mati.

Sebelurnilya tokoh-tokoh RMS lainnya, termasuk Manuhutu, telah menyerahkan diri kepada pemerintah pada tahun 1951 dan dijatuhi hukuman penjara oleh pengadilan tentara pada tanggal 8 Juni 1958 di Yogyakarta.

Meskipun di dalam negeri pemberontakan RMS telah dimusnalikan, di luar negeri pelarian-pelarian RMS dibawah pimpinan Manusama, serta bekas-bekas serdadu KNI yang “turut pulang” dengan Belanda masih melanjutkan petualangannya.

4. Pemberontakan PRRI/Permesta (1958)

Dengan dimulainya pembentukan dewan-dewan seperti dewan Banteng, dewan Gajah, dewan Mangum dan pengambilan kekuasaan pemerintahn setempat akhirnya pecah menjadi pemberontakan terbuka pada bulan Pebuari 1958, yang dikenal sebagai pemberontakan “PRRI/Permesta”.

Politik di ibu kota, ketidakstabilan pemerintah, masalah korupsi, perdebatan-perdebatan dalam konstituante serta pertentangan dalam masyarakat mengenai korupsi presiden, Berawal dari pembetukan seperti di Padang tanggal 20 Nopember 1956 dibentuk ­dewan Banteng yang diketuai oleh Letnan Koloner Achmad Husain, dewan ini menuntut agar pemerintah pusat memberikan otonomi yang lebih luas kepada daerah, kemudian dewan lainnya seperti dewan Gajah di Sumatera Utara dibawah pimpinan Letnan Kolonen Simbolon, dewan Garuda di Sumatera Selatan dibawah pimpinan Letnan Kolonel Barlian, dewan Mangum di Sulawesi Utara dibawah pimpinan Kolonel H.N.V. Sumual, dan pengambilan kekuasaan daerah setempat yang akhirnya pecah menjadi pemberontakan terbuka pada bulan Pebruari 1958, yang dikenal sebagai Pemberontakart PRRI Permesta.

Sementara itu Presiden Soekarno menyampaikan gagasannya untuk memperbaiki suasana politik dan mengatasi daerah-daerah yang membangkang dengan mengadakan pembaharuan sistem pemerintahan dan ketatanegaraan. Gagasan yang diucapkan pada tanggal 21 Februari 1957 itu dikenal dengan konsepsi Presiden Soekarno, isi pokoknya antara lain:

1. Sistem demokrasi terpirnpin harus menggantikan sistim demokrasi parlementer (liberal) yang selama ini masih digunakan.

2. Dibentuk kabinet kali empat yang didalamnya duduk empat partai besar yang menang dalam pemilihan umum tahun 1955 yaitu PNI, Masyumi, NU, dan PIC.

Pada tanggal 19 Januari 1958 suatu pertemuan diselenggarakan di sungai daerah Sumatera Barat yang dihadiri oleh Letnan Kolonel Husain, Letnan Kolonel Sumual, Kolonel Simbolon, Kolonel Dachlan Djambek dan Kolonel Zulkifli Lubis sedangkan dari sipil nadir M. Natsir, Syarif Usman, Harahap dan Syafruddin Prawiranegara. Dalam pertemuan tersebut dibicarakan soal pembentukan pemerintahan barn serta hal-hal yang berhubungan dengan itu.

Pada tanggal 10 Pebruari 1958 diadakan rapat raksasa di Pandang Letnan Kolonel Achmad Husain berpidato memberikan ultimatum kepada pemerintah pusat, ultimatum itu menuntut hal-hal sebagai berikut :

1. Dalam waktu 5 x 24 jam kabinet Djuanda menyerahkan mandat kepada presiden atau presiden mencabut mandat kabinet Djuanda.

2. Presiden menugaskan Drs. Muh. Hatta dan Sultan Hamengkubuwono IX untuk membentuk zaken kabinet.

3. Meminta kepada presiden supaya kembali kepada kependudukannya sebagai presiden konstitusional.

Dalam sidang dewan menteri pada tanggal 11 Maret 1958 ultimatum itu dengan tegas ditolak pemerintah. Achmad dan semua perwira yang terlibat dipecat. Terjadilah pernberontakan pada tanggal 15 Pebruari 1958. pada tanggal tersebut Achmad Husain menyatakan berdirinya PRRI (pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) berikut pembentukan kabinetnya dengan Syafruddin Prawiranegara sebagai Perdana Menterinya.

Di Sulawesi proklamasi PRRI mendapat dukungan. Pada tanggal 17 Pebruari 1950 Letnan Kolonel D.J.Somba yang menjadi Komandan Militer untuk Sulawesi Utara dan Tenggara memutuskan hubungannya dengan pemerintah pusat. Di Sulawesi pernberontakan yang serupa dengan PRRI ini disebut “Permesta” (Piagam Perjuangan Rakyat Semesta).

Dalam upaya menurnpas pemberontakan PRRI/Permesta, pemerintah mengerahkan angkatan darat, laut clan udara. Daerah yang pertama dikuasai adalah Riau dibawah pimpinan Letnan Kolonel Kahal-Lidin Nasution. Tujuannya untuk mengamankan masalah­-masalah minyak asing clan untuk mencegah campur tangan asing dengan dalih menyelamatkan negara dan miliknya. Kota Pakan baru berhasil dikuasai pada tanggal 12 Maret 1958. Untuk mengamankan daerah Sumatera Barat dilancarkan operasi 17 Agustus dibawah pimpinan Kolonel Ahmad Yani. Pada tanggal 17 April Padang dapat dikuasai oleh pasukan angkatan perang dan pada tanggal 4 Mei menyusul kota Bukittinggi.

Untuk Indonesia bagian Timur operasi-operasi penumpasan “Permesta” dikenal dengan “Operasi Merseka” dibawah pimpinan Letnan Kolonel Rukminto Hendradiningrat.

Sementara itu, di daerah Sumatera Utara dilancarkan operasi saptamarga dibawah pimpinan Brigadir Jendral Djatikusurno. Untuk daerah Sumatra Selatan dilancarkan operasi sadar dibawah pimpinan Letnan Kolonel Dr. Ibnu Sutowo. Pimpinan PRRI akhirnya menyerah satu persatu. Pada 29 Mei 1961 secara resmi Achmad Husain melaporkan diri dengan pasukannya, disusul oleh tokoh PRRI yang lain, baik militer maupun sipil. Akhirnya pemberontakan-pemberontakan PRRI/Permesta itu dapat dipadamkan seluruhnya pada pertengahanan tahun 1961.

e. Pendidikan, Komunikasi dan Budaya

Setelah diadakan pengalihan masalah pendidikan dari pemerintah Belanda kepada RI pada tahun 1950, maka oleh menteri pendidikan pada waktu itu, yaitu Dr. Abu Hanifah disusun suatu konsepsi pendidikan yang rnenitik beratkan kepada spesialisasi. Bangsa Indonesia amat terbelakang dalam pengetahuan teknik, di beberapa kota diadakan Akademi Pelayaran, Akademi Oseonografi dan Akademi Resech laut, kata-kata yang dmaksud adalah Surabaya, Makasar, Ambon, Menado, Padang dan Palembang.

Sistem pendidikan diadakan dengan titik berat desentralisasi dalam perkembangan selanjutnya sejak tahun 1959 disusun soatu rencana konsepsi pengajaran yang disebut Sapta Usaha Tama. Konsepsi terdiri atas 7 ketentuan:

1. Penerbitan aparatur dan usaha-usaha Dep. PP dan K

2. Menungkatkan seni dan olah raga

3 Mengharuskan “usaha halaman”

4. Mengharuskan penabungan

5. Mewajibkan usaha-usaha koperasi

6. Mengadakan kelas masyarakat

7. Membentuk regu kerja dikalangan SLA dan universitas.

Pada tanggal 28 Oktober s/d 2 November 1954 di adakan kongres bahasa Indo­nesia di Medan untuk menyempurnakan ejaan baru. Pada tanggal 17 April 1957 di adakan perjanjian persahabatan antara RI dengan Persekutuan Tanah Melayu, yang masing-masing untuk RI diwakili Perdana Menteri In Djuanda dan persekutuan Tanah

Melayu oleh perdana menteri Dato Abdul Rozak bin Dato Husein. Sebagai tindakan selanjutnya, pada tanggal 4 sarnpai 7 Desember 1959 di Jakarta, diadakan sidang

Masyarakat Indonesia Setelah Kemerdekaan bersama antara panitia Pelaksana kerjasama Bahasa Melayu — Bahasa Indonesia, yang diketuai oleh Prof Dr. Slamet Muljana dengan jawatan Kuasa Ejaan Resmi Bahasa Persekutuan Tanah Melayu, yang dipimpin oleh Syeh Nasir bin Ismail. Sidang bersama itu menghasilkan pengumuman Bersama Ejaan Bahasa Melayu-Indonesia (Melindo).

Pada akhirnya pemerintah pada periode Orde Baru menetapkan berlakunya Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) yang berlaku mulai 17 Agustus 1972. Periodisasi rnenUrutNUgroho Notosusanto mengemukakan periode sejarah sastra Indonesia sebagai berikut.

1. Sastra Melayu Lama

2. Sastra Indonesia Modern

Setelah pengakuan Kedaulatan di Jogya berdiri Organisasi Pelukis Indonesia (PI). Beberapa pelukis bergabung dalam himpunan budaya Surakarta.

Dalam periode ini perusahaan Film di Indonesia yang tergabung dalam PPFI (Persatuan Produsen Film Indonesia) milik bangsa Indonesia dan Asing, berjumlah lebih kurang, 20 buah. Perusahaan ini termasuk PFN (Perusahaan Film Negara). Mengenai perkembangan seni bangunan dapat dikemukakan bahwa keadaan bangunan di kota-kota pada umumnya mengambil tempat tak berketentuan dan tak melaraskan diri dengan keadaan alam.

Mengenai media Komunikasi Massa pada jaman liberal ditandai dengan liberalisme dalam hal penulisan berita, tajuk rencana dan pojok. Pada umumnya segi komersialnya kurang menguntungkan, pengusahaannya sudah diasuh secara liberal. Gejala lain yang nampak pada waktu itu, setiap individu, asal memiliki uang, tidak memandang golongannya dapat menerbitkan Surat kabar atau Majalah, tanpa merninta ijin kepada, yang berwenang. Sarana komunikasi lainnya yang vital di negara kits adalah Radio. Sejak proklamasi, penyiaran radio dikuasai oleh bangsa. Indonesia. Dengan sendirinya corak siaran radio dapat disesuaikan dengan juara revolusi pada waktu itu.

MASA DEMOKRASI TERPIMPIN

  1. a.    Dekrit Presiden 5 Juli 1959

 Dewan konstituante merumuskan UUD namun tidak berhasil karena muncul berbagai pertentangan. Partai Masyumi dan NU menghendaki UUD disusun berdasarkan ajaran islam. Pada tanggal 22 April 1959 Presiden Soekarno mengusulkan agar UUD 1945 ditetapkan sebagai UUD RI. Lalu dewan konstituante mengadakan pemungutan suara dalam rangka menolak atau menerima usulan presiden tersebut.

Pemungutan suara diadakan sebanyak tiga kali :

  1. Tanggal 30 Mei 1959 diadakan pemungutan suara pertama tetapi gagal akibat banyaknya anggota konstituante yang tidak hadir.
  2. Tanggal 1 Juni 1959 diadakan pemungutan suara kedua yang juga mengalami kegagalan.
  3. Tanggal 2 Juni 1959 diadakan pemungutan suara ketiga kalinya tetapi juga mengalami kegagalan.

Konstituante selalu mengalami kegagalan,maka pada tanggal 3 Juni 1959 dewan konstituante diistirahatkan. Akhirnya UUD 1945 menjadi UUD RI kembali dan pada tanggal 5 Juli 1959 Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden :

  1. Pembubaran konstituante
  2. Berlakunya kembali UUD 1945 dan tidak berlakunya UUDS 1950
  3. Pembentukan MPRS atau DPAS

Setelah mengeluarkan dekrit ini pada tanggal 17 Agustus 1959 Presiden berpidato yang dikenal dengan nama Manifesto Politik Republik Indonesia (Manipol).

Keadaan Politik dan Ekonomi di dalam Negeri

            Tidak berfungsinya DPRGR dan dibubarkannya DPR pada tanggal 5 maret 1960 karena tidak mau menerima RAPBN yang diajukan pemerintah mendapatkan kecaman dari semua partai politik. Sehingga beberapa partai seperti Masyumi, NU, Parkindo, Partai Katolik, Liga Muslimin, PSI dan LPKI mendirikan liga demokrasiyang diketuai oleh Imron Rosyadi dari NU. Liga demokrasi mengemukakan kecaman terhadap persiden.

  1. Tindakan presiden membubarkan DPR hasil pemilu adalah tidak tepat.
  2. Pembentukan DPRGR hanya akan memperkuat PKI saja.

Jaman demokrasi terpimpin yang berjalan tanpa aturan yang jelas membuat kehidupan ekonomi nasional semakin merosot. Salah satu tindakan Presiden yang semakin mengacaukan ekonomi nasional adalah dengan menghimpun dana revolusi yang dikuasai secara pribadi oleh Presiden dan memerintahkan kepada Menteri Keuangan untuk tidak mengumumkan neraca Bank Indonesia meyebabkan devisit pada tahun 1965 dan akhirnya memicu terjadinya inflasi.

 

  1. b.   Pembubaran Irian Jaya

Akibat dari tidak diserahkannya negara boneka atau irian barat kepada Indonesia oleh Belanda memaksa Indonesia untuk membawa permasalahan ini ke sidang umum PBB. Pada pidato Presiden dalam memperingati hari proklamasi RI ke 15 memutuskan bahwa hubungan diplomatik dengan Belanda telah berakhir.

Pada tanggal 19 Desember 1961 di Yogyakarta Presiden Soekarno mengucapkan pidato tentang Tri Komando Rakyat yang berisi :

  1. Gagalkan pembentukan “Negara Boneka Papua” buatan kolonial Belanda.
  2. Kibarkan sang merah putih di Irian arat tanah air Indonesia.
  3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa.

Operasi pembubaran Irian Barat pada tanggal 2 Januari 1962 dibawah pimpinan Panglima Mayor Jendral Soeharto memiliki tiga rencana, yaitu :

  1. Tahap infiltrasi tahun 1962 yaitu usaha untuk menyusupkan kekuatan pasukan dan rakyat ke sekitar daerah sasaran yang dituju.
  2. Tahap eksploitasi tahun 1963 yaitu usaha mengadakan serangan terbuka terhadap lawan serta berusaha untuk menduduki pos-pos pertahanan musuh yang penting.
  3. Tahap konsolidasi tahun 1964 yaitu tahap untuk menegakkan kekuasaan pemerintah Republik Indonesia di irian Barat.

Pada tanggal 15 Januari 1962 terjadi pertempuran Laut Aru yang menyebabkan gugurnya Komodor Yos Sodarso dan Kapten Laut Wiratno. Untuk mengatasi pertempuran ini Amerika Serikat mengajukan usul yang dikenal dengan usul Bonker yang dikemukakan oleh Elswoth Bonker, yang berisi :

  1. Pengesahan administrasi pemerintahan Irian Barat kepada Indonesia melalui badan pemerintah PBB.
  2. Menjamin adanya hak menentukan pendapat bagi rakyat di Irian.

Pada tanggal 15 Agustus 1962 diadakan perundingan antara Indonesia dengan Belanda di New York yang menghasilkan :

  1. Irian Barat satu tahun akan diurus oleh pemerintahan sementara PBB.
  2. Pemerintah sementara PBB akan memakai tenaga-tenaga Indonesia termasuk putra-putra Irian Barat serta sisa-sisa pegawai Belanda yang masih diperlukan.
  3. Pasukan Indonesia yang ada di Irian Barat statusnya dibawah kekuasaan pemerintah sementara PBB.
  4. Angkatan perang Belanda secara berangsur-angsur dipulangkan ke negeri Belanda.
  5. Antara Irian Barat dan daerah Indonesia lainnya berlaku lalu lintas.
  6. Tanggal 31 Desember 1962 bendera Indonesia mulai dikibarkan disamping bendera PBB.
  7. Tanggal 1 Mei 1963 pemerintah Republik Indonesia resmi menerima pemerintah Irian Barat dari pemerintah sementara PBB.

Dan pada akhirnya ditahun 1969 Irian Barat masuk dan bersatu dengan Republik Indonesia.

  1. c.    Penyimpangan Pancasila dan UUD 1945 pada waktu orde lama

Setelah UUDS 1950 diganti kembali dengan UUD 1945, terjadi penyimpangan yang disebabkan oleh pihak Indonesia yang sedang menjalankan perang kemerdekaan, membela, dan mempertahankan kemerdekaan yang belum lama diproklamasikan. Sedangkan di pihak lain, Belanda sedang berusaha menjajah kembali Indonesia. Oleh sebab itu, UUD 1945 belum dilaksanakan sebagaimana mestinya. Dalam periode 1945-1949 terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan UUD 1945 yaitu sistim kabinet presidensil berubah menjadi parlementer. Dampak dari perubahan tersebut adalah kekuasaan eksekutif dipegang oleh perdana menteri dan banyaknya partai yang saling bertentangan yang menyebabkan sering bergantinya kabinet. Untuk menyelesaikan pertentangan politik yang ada, maka pada tahun 1955 diadakan pemilihan umum dengan berdasarkan pada UUDS.

Presiden dengan dukungan sebagian besar warga Indonesia mengeluarkan dekrit pada tanggal 5 Juli 1959 yang disebabkan karena adanya kemacetan total sistem parlementer dalam menyusun UUD yang dapat membahayakan keutuhan bangsa dan negara Indonesia. Sejak saat itulah UUD 1945 berlaku kembali. Akan tetapi, penyimpangan dalam pelaksanaan UUD 1945 masih terjadi saat pemberontakan G-30 S/PKI pada tahun 1945. Penyimpangan yang dimaksud antara lain sebagai berikut.

  1. Belum dibentuk lembaga-lembaga tertinggi negara seperti DPR, MPR, DPA, dan BPK.
  2. Presiden mengeluarkan produk-produk legislatif yang seharusnya berbentuk Undang-Undang, tetapi dalam bentuk penetapan Presiden yang tanpa persetujuan DPR.
  3. MPRS telah mengangkat Soekarno sebagai Presiden seumur hidup.
  4. Hak Budget DPR tidak berjalan.

Berbagai penyimpangan yang terjadi member peluang kepada PKI untuk merencanakan dan melancarkan pemberontakan terhadap pemerintah Indonesia pada awal Oktober 1965 yang dikenal dengan G-30 S/PKI. Dalam periode 1955-1965, PKI telah berusaha untuk dapat berkuasa yang pada akhirnya mengubah ideologi Pancasila menjadi marxisme-komunisme atau ideologi komunis. Cara atau taktik PKI untuk mencapai tujuannya, yaitu :

  1. Dasar negara Pancasila sebagai alat pemersatu tidak berguna lagi.
  2. PKI berlindung di bawah ajaran Nasakom dari Presiden Soekarno.
  3. PKI menyusup ke dalam partai atau organisasi massa lawan dan memecahkannya, lalu mengajak anggotanya untuk bergabung ke PKI.
  4. PKI menyusup ke dalam tubuh ABRI.
  5. Karena tidak mudah menyusup ke tubuh ABRI, PKI menuntut pemerintah agar soko guru revolusi, yaitu buruh tani yang dilatih dan persenjatai untuk menghadapi berbagai agresi.
  6. PKI mencoba menguasai buruh tani.

Pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965, G-30 S/PKI mulai melakukan pemberontakan di Jakarta dengan menculik dan membunuh enam perwira tinggi dan seorang perwira pertama angkatan darat dan dibuang ke lubang buaya. Mereka adalah :

  1. Ahmad Yani, sebagai Letnan Jendral, Menteri/Panglima AD.
  2. R. Suprapto, sebagai Mayor Jendral, Deputi III Panglima AD.
  3. Harjono Mas Tirtodarmo, sebagai Mayor Jendral, Deputi III Panglima AD.
  4. S. Parman, sebagai Mayor Jendral, assistant I Panglima AD.
  5. D.I. Panjaitan, sebagai Brigjen, assistant IV Panglima AD.
  6. Soetojo Siswomiharjo, sebagai Brigjen, Inspektur Kehakiman AD.
  7. Piere Tendean, sebagai Letnan Satu, Ajudan dari Jenderal A. H. Nasution.

Penumpasan terhadap PKI dilakukan melalui dua cara, yaitu secara militer dan politis. Setelah mendengar berita penculikan, Mayjend Soeharto mengambil alih sementara pimpinan AD. Langkah-langkah yang dilakukan untuk menumpas PKI, yaitu :

  1. Merebut kembali Studio RRI yang dilakukan oleh pasukan RPKAD di bawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhie Wibowo.
  2. Membebaskan lapangan udara Halim Perdana Kusumah pada tanggal 2 Oktober 1965.
  3. Diadakan operasi pembersihan di sekitar Halim, terutama di Lubang Buaya. Pada tanggal 1 Oktober ditemukan sumur tua tempat para jendral dibunuh. Pada tanggal 5 Oktober ketujuh jendral dimakamkan di TMP Kalibata.
  4. Pada tanggal 2 Oktober diadakan operasi penumpasan PKI di Jawa Tengah yang dipimpin oleh Brigjend Suryosumpeno dan D.N. Aidit terngkap.
  5. Diadakan Operasi Trisula, yaitu operasi militer yang dilancarkan terhadap sisa-sisa PKI di Jawa Timur.
  6. Pada tanggal 11 Maret, Presiden Soekarno mengeluarkan surat perinta kepada Soeharto untuk mengambil alih segala tindakan untuk menjamin kemanan, ketenangan, dan kestabilan pemerintah. Surat perintah itu dikenal dengan nama SUPERSEMAR. Dengan adanya surat perintah tersebut, Soeharto melakukan dua hal penting, yaitu :
  7. Membubarkan dan melarang PKI beserta organisasi massanya di seluruh Indonesia terhitung sejak 12 Maret 1965.
  8. Menahan 15 orang menteri yang dinilai terlibat dalam pemberontakan G-30 S/PKI.
  1. c.    Pendidikan Komunikasi Massa dan Budaya

Pada tahun 1950-an, murid-murid SLTP dan SLTA jumlahnya melimpah dan mereka berharap menjadi mahasiswa. Mereka adalah produk pertama dari sistem pendidikan setelah kemerdekaan. Untuk menampung murid-murid tersebut, maka didirikan berbagai perguruan tinggi Islam, Kristen, dan Khatolik. Sejak tahun 1959, disusunlah suatu rencana pengajaran yang disebut Sapta Usaha Tamadi bawah menteri P dan K Prof. Dr. Prijono.Rencana tersebut berisi 7 ketentuan, yaitu meliputi usaha-usaha :

  1. Penertiban aparatur dan usaha-usaha Departemen P dan K.
  2. Meningkatkan seni dan olahraga.
  3. Mengharuskan usaha halaman.
  4. Mengharuskan penabungan.
  5. Mewajibkan usaha-usaha koperasi.
  6. Mengadakan kelas masyarakat.
  7. Membentuk regu kerja di kalangan SLTP/SLTA dan Universitas.

Mengenai komunikasi massa surat kabar dan majalah yang tidak bersedia mengikuti irama demokrasi terpimpin, harus menyingkir dan tersingkir. Persyaratan untuk mendapatkan surat ijin terbit diperketat. Sejak 1960, semua penerbit surat kabar dan majalah diwajibkan mengajukan permohonan surat ijin terbit. Pada surat permohonan tersebut dicantumkan 19 pasal pernyataan yang mengandung janji penanggungjawab surat kabar atau majalah tersebut. Untuk dapat diberi surat ijin terbit, maka penanggungjawab tersebut harus mendukung Manipol-Usdek.

 

DAFTAR PUSTAKA

Internet:

http://rifkiputra1991.blogspot.com/2010/03/menjelaskan-perbedaan-antara-demokrasi.html

http://mustaqimzone.wordpress.com/2009/11/21/indonesia-masa-demokrasi-terpimpin-1959-1966/

http://alhakiki.wordpress.com/2010/01/08/pemerintahan-pada-masa-demokrasi-liberal-dan-terpimpin/

http://id.shvoong.com/law-and-politics/politics/1991739-sejarah-dan-pengertian-demokrasi-terpimpin/